Selain mengasah keterampilan desain grafis, lomba ini juga mendorong pemuda menyebarkan pesan positif kebangsaan melalui media sosial, sehingga gaungnya lebih luas.
3. Lomba Debat Kritis
Pemuda identik dengan pemikiran kritis.
Lomba debat adalah wadah yang tepat untuk menyalurkan kemampuan analisis dan argumentasi.
Berbeda dengan pidato, debat bersifat tim dan menuntut peserta untuk tidak hanya memahami satu sisi isu, tetapi juga sanggahan dari sisi lawan.
Mosi (topik) debat bisa diangkat dari isu-isu nasional terkini, misalnya “Tantangan Globalisasi terhadap Nasionalisme” atau “Pentingnya Bahasa Daerah di Samping Bahasa Persatuan”.
Lomba ini membangun logika berpikir dan kemampuan bekerja sama dalam tim.
4. Lomba Video Pendek atau Film Pendek
Generasi muda saat ini sangat akrab dengan format video.
Lomba video pendek (seperti untuk Reels atau TikTok) atau film pendek adalah cara modern untuk menceritakan makna Sumpah Pemuda.
Peserta dapat mengangkat cerita fiksi atau dokumenter mini tentang bagaimana nilai persatuan, toleransi, atau cinta bahasa Indonesia diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lomba ini menuntut kreativitas dalam penceritaan (storytelling), kemampuan teknis pengambilan gambar, dan penyuntingan video.
Keempat lomba ini lebih dari sekadar ajang mencari pemenang.
Ini adalah cara untuk memastikan bahwa semangat Sumpah Pemuda semangat persatuan, kecerdasan, dan kreativitas terus hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Buku Terbaik untuk Mulai Memahami Feminisme (Novel dan Non-Fiksi)
(*Mira)
















