Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa perundingan di Kuala Lumpur menghasilkan “kerangka kerja substansial” yang akan menjadi dasar pembicaraan lebih lanjut antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada akhir pekan ini.
Kerangka ini disebut dapat menunda penerapan tarif hingga 100% atas produk China dan menahan rencana pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earths).
Ekspektasi pasar pun membaik. Menurut analis dari Haitong Securities, pengumuman sanksi baru AS dan Uni Eropa terhadap Rusia, diiringi sinyal damai dari AS-China, telah menahan kekhawatiran tentang potensi kelebihan pasokan yang sempat membayangi pasar di awal Oktober.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan arah kebijakan OPEC+ yang akan dievaluasi awal November mendatang.
Jika negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi dan Rusia menahan produksi, harga minyak berpeluang bertahan di atas level psikologis US$60 per barel untuk WTI.
Dengan dinamika geopolitik yang masih tinggi dan pasar yang cenderung sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik, harga minyak mentah diperkirakan akan bergerak volatil dalam waktu dekat.
Investor kini menunggu sinyal lebih kuat dari hasil pertemuan AS-China dan respon pasar terhadap sanksi energi Rusia.
(ra)















