Bahaya Pola Asuh ‘Pemakluman’: Saat Kalimat ‘Namanya Juga Anak-anak’ Menjadi Bibit Sifat Manipulatif

"Frasa "namanya juga anak-anak" sering jadi tameng orang tua. Psikolog peringatkan pola asuh pemakluman ini bisa menanam bibit sifat manipulatif dan egois."
Frasa "namanya juga anak-anak" sering jadi tameng orang tua. Psikolog peringatkan pola asuh pemakluman ini bisa menanam bibit sifat manipulatif dan egois. (Dok. Ist)

“Menciptakan anak yang self centered dan egois, mencari segala cara untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri,” tegas Gloria.

Sikap self-centered atau egois inilah yang menjadi akar dari sifat manipulatif.

Anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia selalu benar dan berhak mendapatkan apa yang ia mau, bahkan jika harus dengan cara berbohong atau mengorbankan perasaan orang lain.

Perilaku ini tidak akan berhenti di masa kanak-kanak.

Pola “pemakluman” yang diterima sejak kecil akan terbawa hingga dewasa.

Mereka akan tumbuh menjadi individu yang sulit menerima kesalahan, selalu mencari pembenaran atas kegagalan (seperti masalah finansial atau hubungan), dan cenderung menyalahkan orang lain atas musibah yang disebabkan oleh kelalaiannya sendiri.

Mencintai dan melindungi anak adalah kewajiban.

Namun, membiarkan mereka lolos dari setiap kesalahan tanpa koreksi bukanlah bentuk cinta.

Justru, dengan mengajarkan tanggung jawab, empati, dan konsekuensi dari setiap tindakan, orang tua sedang membekali anak dengan keterampilan sosial yang jauh lebih penting untuk masa depan mereka.

Baca Juga: Belum Terlambat, Inilah 5 Alasan untuk Mulai Membaca Buku Hari Ini

(*Mira)