Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Pasca Sanksi Baru AS terhadap Rusia

Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak pasca sanksi baru AS terhadap raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, Kamis (23/10/2025).
Ilustrasi: Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak dunia terkoreksi pada Rabu (29/10/2025) pagi meski stok AS dilaporkan turun. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (23/10/2025) pagi.

Langkah Amerika Serikat yang secara resmi menjatuhkan sanksi baru terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, menjadi pemicu utama kenaikan ini.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Akibat Permintaan Melemah

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.25 WIB, harga minyak mentah Brent (LCOc1) naik signifikan ke level US$64,08 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) diperdagangkan di kisaran US$59,9 per barel.

Kenaikan ini mencatatkan lonjakan hingga 2,9% dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya, di mana Brent masih berada di sekitar US$62,59 per barel.

Sentimen pasar berubah cepat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan sanksi yang secara spesifik menargetkan ekspor minyak Rusia.

Langkah ini diambil sebagai upaya Washington untuk menekan Presiden Vladimir Putin agar segera mengakhiri perang di Ukraina.

Tindakan ini sekaligus menandai titik balik sikap Trump. Sebelumnya, ia sempat menyatakan akan bertemu Putin untuk mencari solusi damai.

Namun, kini Trump menegaskan sikapnya. Ia menilai Rusia belum menunjukkan komitmen nyata terhadap perdamaian, sehingga ia tak ingin melakukan “pertemuan yang sia-sia.”

Sanksi AS ini menyasar langsung jantung industri migas Rusia. Rosneft dan Lukoil, yang menguasai hampir setengah dari total ekspor minyak mentah Rusia (sekitar 2,2 juta barel per hari), kini masuk dalam daftar hitam perdagangan AS.

Tekanan ini diperkirakan akan berdampak besar terhadap ekonomi Moskow, mengingat pendapatan dari minyak dan gas menyumbang sekitar seperempat dari total anggaran federal Rusia.