Baca Juga: Kayong Utara di Tengah Arus Pemangkasan Dana Pusat
Di sinilah Forum DAS mengambil peran strategis: menyampaikan analisis ilmiah sebagai dasar advokasi kebijakan. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan bahwa air dan tanah tidak tunduk pada batas administratif.
Ratung, Respon, dan Reaksi Cepat
Selain program ARL, tahun ini juga dijalankan kegiatan penanaman “Ratung” (Terubusan Tunggak untuk bibit cepat tumbuh). Arahan Kolaborasi dari Komisi IV DPR RI saat kunjungan baru-baru ini ke Kalbar untuk ekspor Kratom. Sebanyak 10 ribu bibit produktif disiapkan Kemenhut melalui program Perhutanan Sosial dan Balai DAS .
Bibit ini mencakup jenis-jenis berbuah dalam 1–2 tahun, seperti durian, alpukat, dan jengkol, serta jenis bernilai ekologis tinggi seperti tengkawang dan gaharu.
Program ini bukan proyek simbolik, melainkan strategi percepatan rehabilitasi dan pemberdayaan desa hutan. Karena ketika masyarakat menanam pohon yang berbuah, mereka menanam masa depan.
Waspada Bencana, Siaga Data
Dalam konteks bencana, Forum DAS juga menegaskan pentingnya respons cepat dan komunikasi publik yang akurat. Ketika banjir melanda Melawi atau kebakaran muncul di hutan gambut, publik butuh penjelasan berbasis data, bukan rumor.
Maka disepakati dibangun mekanisme komunikasi darurat antara BPDAS dan FORDAS, meliputi:
- Validasi cepat laporan bencana,
- Analisis teknis penyebabnya (hidrologi, tutupan lahan, sosial-ekonomi),
- Pernyataan resmi berbasis sains kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Dengan cara ini, Forum DAS tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi pusat pengetahuan dan komunikasi krisis ekologi.
Menutup Tahun, Menyemai Harapan
Menjelang tutup tahun 2025, Forum DAS akan menggelar kegiatan penanaman pohon di kampus Universitas Tanjungpura pada 31 Desember — simbol kebersamaan lintas generasi.
Mahasiswa, komunitas perempuan penanam, dan aparat kehutanan akan bergandeng tangan menanam pohon, bukan sekadar menambah tutupan lahan, tapi menumbuhkan optimisme.
Dalam suasana krisis iklim global, kegiatan kecil ini sesungguhnya monumental: ia menegaskan bahwa pengelolaan DAS bukan proyek teknis, tapi gerakan peradaban.
Dari Hulu ke Hilir, dari Data ke Aksi
Dari seluruh diskusi, ada satu benang merah yang tak terbantahkan: kalau hulu tidak dijaga, hilir akan menanggung akibatnya.
Maka tugas kita bukan hanya menanam pohon, tapi menanam kesadaran. Bukan hanya menghitung debit air, tapi menata ulang aliran tanggung jawab.
Karena sungai tidak pernah berbohong: ia mengalir mengikuti kebenaran gravitasi dan kearifan alam. Kalimantan Barat, dengan semua tantangan dan potensinya, memiliki kesempatan besar untuk menjadi model pengelolaan DAS berbasis pengetahuan lokal dan kemitraan sejati.
Kuncinya sederhana: kolaborasi, konsistensi, dan keberlanjutan.
🌱 Penutup: Membangun Jejak Baik di Atas Air
Dalam satu kalimat, rapat FORDAS hari ini bukan sekadar forum teknis tetapi cermin bagi kita semua: bahwa membangun Kalbar bukan dengan mengejar proyek, melainkan dengan menyusun peradaban air dan hutan yang berkeadilan.
Jika setiap batang pohon yang ditanam menjadi doa, dan setiap tetes air yang mengalir menjadi amanah, maka kita sedang berada di jalan yang benar.
Karena menjaga DAS bukan hanya menjaga air tapi menjaga kehidupan.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim Universitas Tanjungpura dan Ketua Forum DAS Kalimantan Barat
Disclaimer: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis. Tanggung jawab penuh atas isi dan interpretasi yang terkandung di dalamnya sepenuhnya berada pada penulis.
















