5 Sisi Patriarki yang Terkuak di Drakor “Marry My Husband”

"Temukan 5 sisi patriarki yang terungkap dalam drama Korea "Marry My Husband", mulai dari beban domestik hingga ekspektasi pernikahan pada karakter perempuan."
Temukan 5 sisi patriarki yang terungkap dalam drama Korea "Marry My Husband", mulai dari beban domestik hingga ekspektasi pernikahan pada karakter perempuan. (Dok. Ist)

Contoh paling nyata adalah perilaku semena-mena Park Min-hwan di kantor dan bagaimana perempuan kerap diremehkan kemampuannya.

Ini menggambarkan budaya kerja yang didominasi pria dan seringkali permisif terhadap perlakuan tidak adil pada perempuan.

4. Tekanan Ekspektasi Pernikahan dan Peran Istri Ideal

Sepanjang drama, ada tekanan kuat pada perempuan untuk segera menikah dan memenuhi peran “istri ideal”, terutama dari keluarga atau lingkungan sosial.

Ji-won sendiri awalnya terperangkap dalam ekspektasi ini, mengorbankan kebahagiaan dan kariernya demi Min-hwan.

Bahkan setelah ia kembali ke masa lalu, tekanan untuk “menemukan suami yang baik” masih menjadi narasi yang kuat, meskipun ia berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri.

Hal ini menunjukkan betapa nilai perempuan seringkali dikaitkan dengan status pernikahannya.

5. Validasi Diri Perempuan Terkait Hubungan Romantis

Meskipun Ji-won berusaha balas dendam dan bangkit, validasi dirinya sebagai seorang perempuan terkadang masih terkait erat dengan keberadaan pria dalam hidupnya.

Perjuangannya untuk lepas dari Min-hwan dan menemukan kebahagiaan sering kali berakhir dengan ditemukannya sosok pria lain yang “melindungi” atau “menyelamatkan”nya, seperti Yoo Ji-hyuk.

Ini menyoroti pola umum dalam narasi media yang masih kesulitan menggambarkan perempuan yang sepenuhnya berdaya tanpa ketergantungan pada hubungan romantis atau validasi dari pasangan pria.

Marry My Husband” memang memberikan pesan kuat tentang kekuatan seorang perempuan untuk mengubah nasib.

Namun, melalui berbagai dinamika karakternya, drama ini juga secara tidak langsung mengajak kita untuk merenungkan sejauh mana nilai-nilai patriarki masih membentuk pandangan dan ekspektasi dalam masyarakat dan bahkan dalam karya fiksi sekalipun.

Baca Juga: Matikan Notifikasi, Hidupkan Akhir Pekan: Mengapa ‘Jangan Ganggu’ Adalah Kunci Kebahagiaan Sejati

(*Mira)