5 Sisi Patriarki yang Terkuak di Drakor “Marry My Husband”

"Temukan 5 sisi patriarki yang terungkap dalam drama Korea "Marry My Husband", mulai dari beban domestik hingga ekspektasi pernikahan pada karakter perempuan."
Temukan 5 sisi patriarki yang terungkap dalam drama Korea "Marry My Husband", mulai dari beban domestik hingga ekspektasi pernikahan pada karakter perempuan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Drama Korea “Marry My Husband” sukses mencuri perhatian dengan alur balas dendam yang menegangkan dan memuaskan.

Kisah Kang Ji-won yang kembali ke masa lalu untuk mengubah takdirnya setelah dikhianati suami dan sahabatnya memang adiktif.

Namun, di balik plot yang seru itu, drama ini juga secara tidak langsung menyoroti berbagai aspek patriarki yang masih mengakar kuat dalam masyarakat Korea, bahkan hingga ke layar kaca.

Beberapa elemen dalam cerita ini, jika diamati lebih dalam, menunjukkan bagaimana nilai-nilai patriarki membentuk karakter, keputusan, dan konflik yang terjadi.

Baca Juga: Ubah Nasibmu: 3 Pelajaran Menohok dari Drama Marry My Husband

Berikut adalah lima sisi patriarki yang terlihat jelas dalam drama “Marry My Husband“.

1. Beban Ganda Domestik pada Karakter Perempuan

Sejak awal cerita, Kang Ji-won digambarkan sebagai istri yang menanggung seluruh beban rumah tangga, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga merawat suami yang egois dan pengangguran, Park Min-hwan.

Bahkan setelah ia bekerja, pekerjaan rumah tangga tetap menjadi tanggung jawab utamanya.

Beban ganda ini adalah representasi nyata dari ekspektasi patriarkal bahwa perempuan bertanggung jawab penuh atas urusan domestik, terlepas dari status pekerjaan mereka di luar rumah.

2. Peran Perempuan sebagai Objek untuk Status Sosial Pria

Karakter Park Min-hwan, dan bahkan keluarga Yoo Hee-yeon (saat perjodohan), menunjukkan bagaimana perempuan sering kali dianggap sebagai alat untuk meningkatkan status sosial atau keuntungan pribadi pria.

Min-hwan menikahi Ji-won bukan karena cinta sejati, melainkan demi kenyamanan dan sebagai “pembantu” yang mengurus segala kebutuhannya.

Ini mencerminkan pandangan bahwa nilai seorang perempuan sering diukur dari kontribusinya terhadap kehidupan atau posisi sosial pasangannya.

3. Budaya Kantor yang Memicu Pelecehan dan Diskriminasi Berbasis Gender

Lingkungan kerja di U&K Food juga tidak luput dari gambaran patriarki.

Kang Ji-won dan rekan-rekan perempuan lainnya sering menjadi sasaran diskriminasi, komentar tidak senonoh, atau bahkan pelecehan verbal dari rekan kerja pria.