Kebaikan hati Martinus menjadi penyelamat bagi sebagian siswa. Namun, tidak semua warga seberuntung itu.
Banyak keluarga yang tidak memiliki sampan kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengeluarkan biaya tambahan setiap hari untuk jasa penyeberangan atau membatasi aktivitas.
“Kalau tidak punya sampan, harus bayar orang buat nyeberang. Ini jelas memberatkan,” keluh Rajali, salah seorang warga, Rabu, (8/10/2025).
Jembatan yang dibangun secara swadaya pada tahun 2000 oleh seorang dermawan lokal itu kini telah menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang.
Aksi seperti yang dilakukan Kades Martinus adalah solusi sementara.
Di balik dayung sampannya, tersimpan harapan besar dari seluruh warga agar pemerintah segera turun tangan membangun kembali akses kehidupan mereka yang telah rata dengan tanah.
Baca Juga: Lakalantas Antara Mobil Travel dan Motor di Jalan Sintang-Putussibau Memakan Korban Jiwa
(*Mira)
















