“Ini menandakan bahwa perubahan iklim, krisis iklim sudah benar-benar terjadi,” tambah Rolink.
Ia mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan kepada generasi mendatang.
Ajakan ini didukung oleh pandangan dari perwakilan tokoh agama Hindu, yang menjelaskan bahwa ajarannya memiliki konsep tirta kirana.
“Yaitu menjaga hubungan harmonis kita dengan Tuhan, kita menjaga harmonis dengan sesama manusia, dan yang terakhir menjaga harmonis kita dengan alam kita. Kalau kita dapat melaksanakan konsep ajaran ini, maka kita dapat hidup bahagia, damai, dan sejahtera,” paparnya.
Konsep serupa juga diungkapkan oleh Sutadi, tokoh agama Khonghucu, melalui istilah sangcai.
“Menjaga manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Artinya ketiga ini tidak bisa dilepaskan dan saling berhubungan,” katanya.
Paulus Ajong, tokoh agama Kristen, menekankan betapa fundamentalnya isu lingkungan.
“Lingkungan hidup bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan hidup yang layak huni. Melalui Ecobhinneka, hal ini digumuli dan semakin disempurnakan oleh Muhammadiyah,” ungkapnya.
Melalui festival ini, para tokoh agama sepakat bahwa ajaran spiritualitas dapat menjadi landasan kuat untuk mendorong aksi nyata dalam mencapai keadilan iklim dan melestarikan bumi sebagai rumah bersama.
Baca Juga: Pesan Tokoh Agama Melalui Pembelajaran Kebhinekaan dan Pelestarian Lingkungan
(*Mira)
















