Hadapi Krisis Iklim, Tokoh Lintas Agama di Pontianak Serukan Aksi Kolaboratif Berbasis Eco-Teologi

"Menghadapi ancaman krisis iklim, para tokoh lintas agama di Pontianak menyerukan kolaborasi melalui pendekatan eco-teologi dalam S.H.E Festival 2025 yang diinisiasi Ecobhinneka Muhammadiyah. "
Menghadapi ancaman krisis iklim, para tokoh lintas agama di Pontianak menyerukan kolaborasi melalui pendekatan eco-teologi dalam S.H.E Festival 2025 yang diinisiasi Ecobhinneka Muhammadiyah. (Dok. Mira/Faktakalbar)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Ancaman krisis iklim yang semakin nyata menjadi perhatian utama dalam S.H.E (Sustainability, Harmony, and Equality) Festival 2025 yang digelar Ecobhinneka Muhammadiyah di Hotel Ibis Pontianak, Sabtu (11/10/2025).

Para tokoh dari enam agama di Kalimantan Barat menyerukan pentingnya kolaborasi untuk menyelamatkan bumi melalui pendekatan eco-teologi, sebagaimana diusung dalam tema acara “Dari eco teologi menuju keadilan iklim”.

Rolink Kurniadi Darmara, tokoh agama Buddha, memberikan apresiasi atas konsistensi Ecobhinneka dalam mengangkat isu lingkungan.

Menurutnya, krisis iklim bukan lagi isu di masa depan, melainkan ancaman yang sudah terjadi saat ini.

Baca Juga: Enam Tokoh Agama di Pontianak Bersatu Suara, Sebut Ecobhinneka Muhammadiyah Penggerak Aksi Iklim dan Kerukunan

“Kita hari ini melihat bahwa kondisi alam kehidupan di bumi ini terancam oleh yang namanya krisis iklim, di mana hari demi hari alam itu sudah tidak bersahabat dengan kita. Cuaca ekstrem, bencana kebakaran hutan, banjir bandang, itu bencana-bencana yang dulu belum pernah kita alami tapi sekarang kita alami,” tegasnya.