Senada dengan itu, Paulus Ajong dari Kristen menyatakan program ini menjawab dua tantangan besar.
Pertama, tantangan ekologi, di mana manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan yang layak. Kedua, tantangan kebinekaan.
“DNA dan konteks kita majemuk yang jatuhnya bukan menjadi ancaman, tetapi sumber energi kekuatan bagi manusia, bagi Kalimantan Barat, bahkan bagi dunia. Karenanya, melalui Ecobhinneka sudah menjawab dua tantangan besar,” kata Paulus.
Tokoh agama Khonghucu, Sutadi, juga berterima kasih karena Ecobhinneka telah mengajarkan untuk turut serta mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama terkait hubungan antar manusia dan dengan alam.
“Di dalam kitab suci menjelaskan, yang berlainan jalan suci belum tentu tidak dapat bekerja sama dan bersamaan jalan suci belum tentu dapat bekerja sama. Itu artinya kita hidup di Indonesia sangat majemuk. Walaupun kita berbeda, perbedaan bukanlah suatu ancaman bagi kita,” jelasnya.
Apresiasi juga datang dari Rupinus Kehi, tokoh Katolik, yang menyebut kegiatan Ecobhinneka Muhammadiyah sungguh membawa rasa persatuan dalam keberagaman.
“Kegiatan-kegiatan Ecobhinneka Muhammadiyah membangun jejaring kaum muda untuk menumbuhkan kesadaran penghargaan terhadap keberagaman agama serta budaya untuk menegaskan kebebasan beragama dan berkeyakinan,” tuturnya.
Para tokoh agama lainnya dari Buddha dan Hindu juga menyuarakan pandangan yang sama, menekankan bahwa ajaran agama mereka selaras dengan upaya menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama manusia, seraya berterima kasih atas ruang kolaborasi yang diciptakan oleh Ecobhinneka Muhammadiyah.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Pulau Galang untuk Tampung dan Obati 2.000 Warga Gaza
(*Mira)
















