Bupati, bersama Raja Hulu Aik, para domong, dan tamu kehormatan, turut merendahkan diri dalam doa adat, memohon restu kepada Duata, Tuhan Alam Perimbangan Tanah Arai.
Kemudian para domong dari Jelai Hulu menuntun jalannya Naik Jurung Tinggi. Doa-doa adat dilantunkan, ancak digantungkan di bumbung, lalu benih padi dimasukkan ke dalam jurung.
Bupati bersama Raja Hulu Aik dan para tamu kehormatan ikut serta dalam ritual ini sebagai simbol kebersamaan, syukur, dan harapan akan keberkahan pangan bagi seluruh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Alex mengucapkan terima kasih kepada para tamu kehormatan, mulai dari Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, Cornelis (Anggota DPR RI), Bupati Sukamara, Wakil Bupati Sanggau, perwakilan dari Bengkayang dan Singkawang, serta tokoh adat, pemuka agama, ketua-ketua paguyuban dan seluruh masyarakat.
Sebuah penegasan mengenai posisinya sebagai Bupati sekaligus Patih adat disampaikan olehnya.
“Saya menegaskan, selain sebagai Bupati, saya juga memegang amanah adat sebagai Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh. Amanah ini bukan kekuasaan, melainkan tanggung jawab menjaga adat, budaya, dan tradisi luhur Dayak. Karena saya yakin, jika adat hilang, maka hilang pula jati diri dan martabat masyarakat Dayak. Namun, sebagai pemimpin daerah, saya juga berkomitmen berlaku adil dan mengayomi semua suku, agama, dan etnis di Ketapang,” ucapnya.
Semangat kebhinekaan juga ditekankan oleh Bupati.
“Ketapang adalah rumah besar kita bersama termasuk Dayak, Melayu, Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa, dan lainnya, semua memiliki ruang yang sama untuk tumbuh dan berkembang dalam semangat kebhinekaan,” tuturnya.
Makna mendalam dari ritual Naik Jurung Tinggi turut dipaparkan olehnya.
“Untuk itu, kegiatan “Naik Jurung Tinggi” adalah pesan dari leluhur yang mana dengan menjaga padi berarti menjaga kehidupan, menjaga adat berarti menjaga martabat dan menjaga persatuan berarti kita menjaga masa depan,” tegasnya.
Doa dan harapan untuk persatuan juga dipanjatkan oleh Alexander Wilyo.
“Selain itu, juga merupakan lambang gotong royong, solidaritas, dan persatuan. Saya berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahkan kesehatan, rezeki, keturunan, dan keberhasilan bagi semua yang hadir. Semoga pula, melalui tradisi ini, kita semakin teguh menjaga adat, merawat budaya, serta menumbuhkan kebanggaan akan jati diri kita,” pungkasnya.
Baca Juga: Meriahnya Karnaval Budaya Dayak Ketapang, Melestarikan Budaya Bangsa
(*AF)
















