Menggantung dengan bantuan tali crane, penampilannya sukses memukau ribuan pasang mata yang memandang takjub dari bawah, menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu dalam seremoni pembukaan.
Wali Kota Tjhai Chui Mie, yang akrab disapa TCM, menekankan bahwa festival ini lebih dari sekadar perayaan. Menurutnya, ini adalah wujud nyata dari upaya melestarikan nilai-nilai luhur budaya nenek moyang.
“Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 15 bulan 8 kalender Tionghoa. Bukan hanya seremonial, tapi cara kita melestarikan budaya dan mensosialisasikannya kepada masyarakat,” ujar Tjhai Chui Mie.
Pelestarian Budaya dan Pendorong Ekonomi Lokal
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, TCM juga melihat dampak positif yang signifikan bagi perekonomian lokal, terutama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berpartisipasi.
“Selama seminggu UMKM akan berjualan di sini. Ini tentu memberi dampak besar bagi perekonomian masyarakat kita,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mendorong paguyuban etnis lain di Singkawang untuk turut serta mengembangkan potensi budaya mereka menjadi atraksi wisata yang menarik.
“Kita punya 17 paguyuban. Masing-masing harus mampu mengemas nilai budaya uniknya agar menjadi magnet wisatawan berkunjung ke Singkawang,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Singkawang Mooncake Festival 2025, Helga Abraham, menjelaskan bahwa acara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial.
Baca Juga: Festival Faradje Pesaka Negeri: Upaya Sanggau Jaga Identitas dan Warisan Budaya
Selain menyajikan beragam jenis kue bulan (mooncake), panitia juga menggelar bakti sosial berupa akupunktur gratis dan pemberian santunan untuk anak yatim.
Melihat antusiasme yang luar biasa, Helga berharap acara ini dapat terus berlanjut di masa depan.
“Melihat antusias masyarakat yang begitu besar, kami berharap Mooncake Festival dapat menjadi agenda tahunan Kota Singkawang,” harapnya.
(*Red)
















