Lomba Kuliner Tradisional di Istana Kadriah: Singkep-Singkep Menjelajah Status Warisan Budaya Tak Benda

"peserta lomba-kuliner-tradisional-istana-kadriah"
Lomba Kuliner Tradisional Tingkat SMA/Sederajat se-Kota Pontianak digelar di Istana Kadriah pada Rabu, 25/09/2025. Para pelajar ini antusias bersaing untuk melestarikan resep khas Melayu, dengan fokus utama pada hidangan langka, Kue Singkep-Singkep dan Air Serbat. (Dok. RDL/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Kompetisi Kuliner Tradisional di Istana Kadriah bukan hanya perihal otentisitas rasa, tetapi juga visi ekonomi dan pengakuan budaya nasional. Fokus pada Kue Singkep-Singkep dan Air Serbat kali ini menempatkan kuliner tradisional sebagai aset berharga yang siap menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Istana Kadriah, Yayasan Puak Melayu Maharatu, dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII ini memiliki tujuan strategis. Maha Ratu melihat potensi pasar yang besar dari warisan ini.

“Kue Singkep-Singkep ini bisa jadi lebih dari tradisi, bayangkan dari satu budaya sederhana ini bisa menghasilkan ide usaha, potensi ekonomi, dan yang pasti menjadi oleh-oleh khas Pontianak,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan;

“Jadi ini worth it dan relevan untuk dijadikan oleh-oleh khas Pontianak, ini mengapa kita laksanakan lomba kuliner tradisional ini, harapannya anak-anak muda untuk menjadi pewaris resep ini.” sambungnya.

"singkep-singkep"
Singkep-Singkep adalah penganan tradisional khas Pontianak berupa soft cake lembut yang disiram vla susu dan dihiasi selai, menjadikannya dessert istimewa yang kini digiatkan kembali pelestariannya. (Dok. Ist)

Baca Juga: Stok Darah PMI Pontianak Punya 83 Kantong, Optimis Target 100 Kantong Tercapai Lewat Aksi Donor Aston dan Transera

Optimisme ini disambut baik oleh Juliadi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII. Mengingat Kalimantan Barat telah memiliki beberapa kuliner yang ditetapkan sebagai WBTB, seperti Bubur Pedas dan Pacri Nanas, ia menilai Singkep-Singkep layak dikaji lebih lanjut.

“Tidak menutup kemungkinan apa yang kita lombakan hari ini bisa dikaji lebih lanjut, apakah ke depannya bisa diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia,” ujarnya.

Dengan total hadiah mencapai Rp18.000.000,- yang diperebutkan oleh pelajar, lomba ini menjadi sinyal jelas: melestarikan budaya di Pontianak adalah sebuah investasi yang menjanjikan, baik secara spiritual maupun material.

(*Red)