Rian mengungkapkan bahwa ada pesan di WhatsApp korban yang sudah dihapus.
“Kami lihat WhatsApp korban, banyak yang sudah dihapus. Bahkan penyelidik pun mengaksesnya. Kami coba telusuri lewat laptop korban, dan mulai dari komunikasi dengan Kak Ramadan yang bekerja sebagai sopir Damri di Pontianak,” jelas Rian.
Menurut Rian, pesan suara berupa tangisan korban ditemukan di laptop, yang dikirim pada dini hari tanggal 16 atau 17 September hingga pukul 09.00 pagi sebelum kejadian.
Korban juga sempat menyuruh Ramadan untuk datang ke rumahnya.
“Korban sempat menyuruh Ramadan datang ke rumahnya. Kata Ramadan, pagar terkunci, jadi dia melompat dan menggedor rumah, tapi tak ada respons. Dia mengintip lewat jendela, tak ada tanda kehidupan, lalu mendongkrak pintu,” lanjut Rian.
Setelah berhasil masuk, Ramadan bersama tiga warga lain dan Babinkamtibmas yang kebetulan sedang berpatroli, membawa korban ke RSUD Soedarso.
Baca Juga: Horor di Kubu Raya: Pegawai Dinkes Sambas Ditemukan Tewas Gantung Diri
Rian menambahkan bahwa Babinkamtibmas tidak ikut masuk ke rumah karena panik.
“Di rumah sakit, katanya nadi korban masih 30 persen. Tapi pihak rumah sakit menyatakan korban sudah meninggal. Kami juga lihat dari video, ada lebam merah di tubuh dan lengan korban,” imbuh Rian, yang merasa ada yang tidak beres.
Ibu korban, H. Lili Sumanti, menuntut keadilan dan proses penyidikan dilakukan secara menyeluruh.
“Saya minta kasus ini diusut setuntas-tuntasnya. Saya juga minta hak saya dikembalikan dan penjelasan yang jelas. Anak saya tidak mati koper seperti yang dibilang,” ucapnya dengan tegas.
Pernyataan ini muncul di tengah klaim Ramadan bahwa hubungannya dengan Novika hanya sebatas rekan bisnis.
Namun, pihak keluarga menyebut bahwa keduanya telah menikah dan memiliki bukti.
Keraguan yang terus muncul ini membuat keluarga semakin gigih menuntut kebenaran di balik kematian Novika Sari.
Baca Juga: Geger di Paloh Sambas, Pria Ditemukan Tewas Tergantung di Perbatasan Sungai
(*Red)
















