Kasus dugaan oli palsu ini sempat menjadi perbincangan hangat di masyarakat Kalbar karena produk dengan merek Pertamina diduga kuat dipalsukan dalam jumlah besar.
Praktik tersebut bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga bisa merusak citra Pertamina sebagai perusahaan energi negara.
Krisantus menilai sikap Pertamina yang terkesan membiarkan peredaran oli palsu semakin menambah kecurigaan publik.
“Nama mereka sudah dipakai, masyarakat dirugikan, tapi mereka tidak proaktif. Itu yang membuat saya katakan Pertamina bisa dianggap terlibat,” ujarnya.
Selain kasus dugaan oli palsu, Pertamina juga dihadapkan pada sorotan lain di Kalimantan Barat. Mereka sering kali menjadi topik utama diskursus kalangan masyarakat umum maupun stakeholders terkait dugaan penyelewengan BBM bersubsidi.
(Dhn)
















