Meskipun begitu, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar, yaitu mengatasi kesenjangan kapasitas satelit sekitar 1 Tbps di wilayah 3T.
Melihat persoalan itu, BRIN mendorong strategi multifaset, seperti pembangunan satelit VHTS baru, pengembangan satelit LEO, optimalisasi spektrum, dan pendekatan hibrid dengan serat optik.
“Kami juga melakukan riset untuk mitigasi interferensi dan pengelolaan spektrum agar operasional satelit lebih efisien,” ungkap Wahyudi.
Selain itu, BRIN berkontribusi pada space situational awareness untuk memastikan keselamatan satelit di orbit. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan ekosistem lokal juga menjadi fokus.
Sampai saat ini, BRIN terus membuka peluang co-development dan co-creation melalui program magang, penggunaan fasilitas riset bersama, dan konsorsium riset dengan perguruan tinggi serta industri.
“Kami ingin membangun SDM unggul dan memperkuat ekosistem satelit nasional melalui kegiatan Assembly-Integration-Test (AIT) di dalam negeri,” kata Wahyudi.
Dengan strategi ini, BRIN tidak hanya berupaya menjawab tantangan persaingan global, tetapi juga membangun fondasi kemandirian teknologi antariksa Indonesia.
“Satelit seperti SNL dan rencana konstelasi LEO kami adalah langkah menuju ekosistem yang kuat, yang tidak hanya mendukung konektivitas, tetapi juga observasi bumi dan pengawasan maritim,” pungkasnya.
Baca Juga: 5 Rahasia di Balik Kenapa Kopi Bikin Kamu Mengantuk, Bukan Melek
(*Mira)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















