Ia belajar dari kaum petani, nelayan, dan aktivis lain, perlahan-lahan melepaskan ke-priyayi-annya dan menjadi “anak semua bangsa”.
Novel ini lebih eksplisit menggambarkan konflik kelas dan eksploitasi.
Tema-tema ini sangat sensitif bagi Orde Baru dan dengan mudah dicap sebagai ajaran Marxisme.
Pramoedya menelanjangi kebobrokan sistem feodal dan kolonial yang menindas rakyat kecil.
3. Jejak Langkah (1985)
Di buku ketiga, Minke telah matang sebagai seorang pemikir dan organisator.
Ia tidak lagi hanya merenung, tetapi bertindak. Menggunakan pengetahuannya, Minke merintis pendirian surat kabar berbahasa Melayu dan organisasi modern pertama yang bertujuan mengangkat derajat kaum pribumi.
Ini adalah kisah tentang kekuatan media dan pentingnya persatuan dalam sebuah pergerakan.
Jejak Langkah bisa dibilang sebuah “manual” pergerakan.
Ia menunjukkan secara detail bagaimana cara mengorganisir massa dan menggunakan pers sebagai alat perjuangan.
Kemampuan untuk menyatukan dan memobilisasi rakyat adalah hal yang paling ditakuti oleh rezim otoriter.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Angka: Rekomendasi Novel Fiksi Sejarah untuk Memahami Peristiwa 98
(*Mira)
















