Opini  

Kalimantan Barat dan Jejak Borneo di Panggung NaSTeC 2025

Konferensi NaSTeC 2025 menjadi panggung strategis bagi UNTAN dan Pemprov Kalbar untuk memajukan riset, diplomasi hijau, dan memperkuat posisi Borneo sebagai pusat keberlanjutan global. (Dok. Faktakalbar.id)
Konferensi NaSTeC 2025 menjadi panggung strategis bagi UNTAN dan Pemprov Kalbar untuk memajukan riset, diplomasi hijau, dan memperkuat posisi Borneo sebagai pusat keberlanjutan global. (Dok. Faktakalbar.id)

​Energi terbarukan: PLTN Semesak–Pantai Gosong, biomassa, dan surya.

​Kerja sama perbatasan RI–Malaysia: memperkuat diplomasi regional di Borneo.

​Biodiversitas sebagai Inspirasi

​Keynote speaker NaSTeC 2025, Prof. Rolf Müller, menekankan bioinspired engineering—menjadikan biodiversitas sebagai sumber inovasi teknologi.

Di Indonesia, riset serupa telah dilakukan dan dipublikasikan, seperti penelitian tentang bioplastik dari limbah biomassa. (Zhan et al., 2023).

Kalbar dengan spesies endemik seperti kratom, tengkawang, dan bajakah bisa masuk dalam ekosistem riset bioinspirasi global.

​Ketahanan Pangan dan Energi

​Isu ketahanan pangan di Kalbar, terutama dengan lahan rawa dan pasang surut, relevan untuk kolaborasi riset lintas Borneo.

Sebagai contoh, riset padi hibrida di kawasan Asia dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan ketahanan pangan (Huang et al., 2023).

Sementara itu, isu energi hijau dan PLTN di Kalbar dapat dikaitkan dengan diskursus global tentang transisi energi, menjadikan Kalbar aktor penting dalam percaturan energi bersih kawasan.

​Sinergi PCDS2030 dan FOLU Net Sink 2030

​Sarawak punya Post-COVID-19 Development Strategy 2030 (PCDS2030) yang memprioritaskan konservasi hutan, energi terbarukan, dan ekonomi biru (Sarawak Government, 2021). Indonesia punya FOLU Net Sink 2030 (KLHK, 2021).

Sinergi keduanya bisa melahirkan model transboundary sustainability governance Borneo.

​Kesempatan Besar bagi Kalbar

​Ada lima langkah strategis yang bisa ditempuh:

​Kolaborasi riset lintas batas → UNTAN dan UNIMAS memimpin riset biodiversitas, pangan, energi, dan kesehatan.

​Publikasi internasional → mendorong riset dosen dan mahasiswa UNTAN masuk jurnal Scopus.

​Diplomasi hijau → Pemprov Kalbar menjalin MoU dengan Pemerintah Sarawak.

​Branding Kalbar → tampil sebagai provinsi hijau di forum internasional.

​Pemberdayaan generasi muda → mahasiswa Kalbar ikut Festival of Ideas untuk memperkuat jejaring inovasi.

​Suara Borneo untuk Dunia

​NaSTeC 2025 bukan sekadar konferensi, melainkan momentum Kalbar menunjukkan diri.

UNTAN dengan sembilan fakultasnya adalah academic engine, sementara Pemprov Kalbar adalah policy driver.

Bersama, keduanya dapat membawa Kalbar menjadi pionir green economy Indonesia sekaligus bagian dari poros keberlanjutan global.

Oleh: Gusti Hardiansyah,
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Kalbar

Disclaimer:

Artikel ini adalah opini pribadi penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi.