“Kapolri dan Kapolda Kalbar harus mundur dari jabatannya. Kapolda terbukti represif pada aksi gelombang pertama kemarin yang melukai teman-teman mahasiswa,” teriak salah seorang orator dari atas mobil komando.
Selain itu, mahasiswa juga menggugat pemborosan anggaran DPRD Kalbar, seperti alokasi biaya makan dan minum yang mencapai Rp23 miliar serta perjalanan dinas bernilai miliaran rupiah. Isu tersebut kian menyulut amarah massa yang menilai DPRD tidak berpihak pada rakyat.
Berbeda dengan gelombang aksi pertama, kali ini aparat kepolisian tampak lebih menahan diri. Personel berseragam anti-huru-hara ditempatkan di barisan belakang, sementara pasukan Brimob berjaga di sisi belakang Gedung DPRD.
Polisi juga menyiagakan mobil water cannon serta personel K-9 dengan beberapa ekor anjing.
Meski demikian, suasana kian riuh dengan teriakan mahasiswa. “Revolusi! Revolusi!” bergema lantang di sepanjang barisan massa yang semakin padat di depan gedung wakil rakyat.
Hingga pukul 18.30 WIB, aksi massa belum menunjukkan tanda-tanda akan bubar. Aparat kepolisian kemudian mulai membubarkan paksa barisan massa yang memicu kericuhan di Jalan Ahmad Yani.
Tembakan gas air mata dibalas dengan lemparan kembang api oleh para demonstran. Hingga berita ini diturunkan, kericuhan dilaporkan masih terjadi.
(Dhn)
















