Kini, produk turunannya mulai merambah industri modern dan menembus pasar global.
“Melalui festival ini, kita ingin mengangkat tengkawang sebagai simbol kebanggaan daerah sekaligus komoditas strategis yang mampu menjawab tantangan ekonomi, ekologi, dan budaya,” ujar Valentinus Heri.
Merancang Masa Depan Melalui Rencana Aksi 2026
Dalam forum ini, JTK memaparkan rencana aksi baru untuk periode 2025–2026.
Fokus utamanya adalah penguatan legalitas pengelolaan, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan akses pasar. Beberapa agenda prioritas yang dirancang antara lain:
- Pemutakhiran data potensi untuk persiapan panen.
- Pendampingan tenaga ahli (GANIS PH) khusus HHBK.
- Pengembangan sertifikasi bibit unggul.
- Pendaftaran Indikasi Geografis (GI) untuk perlindungan produk.
Sejalan dengan itu, inovasi riset dan teknologi pohon akan terus digalakkan, termasuk pembangunan rumah produksi di sentra-sentra tengkawang.
Baca Juga: Festival Tengkawang VII Teguhkan Peran HHBK untuk Pangan dan Ekonomi Hijau
Pola bisnis berbasis komunitas juga menjadi prioritas agar nilai tambah komoditas ini dapat kembali dirasakan oleh masyarakat desa yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga hutan.
“Kami ingin memastikan tengkawang tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga komoditas unggulan yang mampu mengangkat ekonomi masyarakat serta menjaga hutan Kalimantan,” tegas Heri.
Kekuatan Kolaborasi Para Mitra Strategis
Kesuksesan pengelolaan tengkawang berkelanjutan tidak lepas dari peran para mitra strategis.
Festival Tengkawang VII menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak yang selama ini menjadi tulang punggung pengembangan HHBK di Kalimantan.
- Forest Wise: Membuka akses pasar internasional, memperkenalkan tengkawang sebagai bahan baku ramah lingkungan untuk industri pangan dan kosmetik global.
- NTFP-EP Indonesia: Menjadi penghubung jaringan komunitas dan memperkuat advokasi kebijakan di tingkat nasional.
- Yayasan KEHATI: Berfokus pada aspek konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati ekosistem hutan.
- Yayasan Riak Bumi: Bergerak di tingkat tapak, mendampingi masyarakat dalam pengolahan pascapanen dan pengembangan ekonomi lokal.
Dukungan juga mengalir dari mitra internasional seperti COLANDS, CIFOR, International Climate Initiative (IKI), dan Kementerian Lingkungan Jerman (BMUKN), serta dukungan akademik dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura sebagai tuan rumah.
Festival ini juga menjadi ajang penyegaran struktur Jaringan Tengkawang Kalimantan untuk memperkuat koordinasi dan memastikan target rencana aksi tercapai.
Baca Juga: Festival Tengkawang VII Digelar di Pontianak, Sang Maskot Kalbar Kian Terancam
Dengan semangat kolaborasi, Festival Tengkawang VII menegaskan bahwa sang maskot Kalimantan Barat adalah titik temu antara ekonomi hijau, konservasi, dan kedaulatan budaya.
(*Red)
















