Tengkawang Fest Hari Kedua: Mengupas Tantangan ‘Emas Hijau’ Menuju Pasar Global

Tengkawang Fest hari kedua membahas strategi dan tantangan untuk mengangkat komoditas tengkawang agar mampu bersaing dan diakui di pasar global. (Dok. Faktakalbar.id)
Diskusi bertajuk green investment yang membahas strategi dan tantangan untuk mengangkat komoditas tengkawang agar mampu bersaing dan diakui di pasar global. (Dok. Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Diskusi bertajuk green investment menjadi sorotan utama pada hari kedua penyelenggaraan Festival Tengkawang ke-7.

Acara ini secara khusus membahas strategi dan tantangan untuk mengangkat komoditas tengkawang agar mampu bersaing dan diakui di pasar global.

Baca Juga: Festival Tengkawang VII Teguhkan Peran HHBK untuk Pangan dan Ekonomi Hijau

Dengan dimoderatori oleh Jumtani Syolihin dari GIZ, diskusi ini menghadirkan berbagai perspektif dari kalangan praktisi, akademisi, hingga pelaku usaha yang berkecimpung langsung dengan komoditas asli Kalimantan ini.

Peluang dan Tantangan Tengkawang sebagai ‘Emas Hijau’

Hadi Santoso dari Arcia menyoroti potensi besar tengkawang yang dijuluki sebagai “emas hijau Kalimantan” atau green butter.

Menurutnya, karakteristik tengkawang sangat menjanjikan di pasar internasional.

“Pohon tengkawang memiliki karakteristik mirip mentega cokelat Afrika yang kini tren di pasar global,” ujar Hadi.

Meski demikian, ia memaparkan sejumlah tantangan signifikan yang harus dihadapi.

Salah satu kendala utama adalah siklus produksi yang tidak menentu, di mana pohon tengkawang hanya panen besar setiap empat tahun sekali.

Selain itu, kesadaran konsumen internasional terhadap produk ini masih tergolong rendah.

Tantangan lainnya datang dari standar ekspor yang ketat, meliputi:

  • Sertifikasi organik dan fair trade.
  • Perizinan dari BPOM dan sertifikasi halal.
  • Persaingan ketat dengan produk sejenis seperti cocoa butter dan shea butter.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Hadi menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi.