Sebagai contoh, Neodymium, salah satu jenis LTJ, menunjukkan kenaikan harga paling signifikan sepanjang tahun 2025.
Baca Juga: Komjen Eddy Hartono Kembali Pimpin BNPT, Dilantik Langsung oleh Presiden Prabowo
Data dari Refinitiv per Jumat (22/8/2025) mencatat harganya mencapai CNY 785.500 per ton, atau setara dengan Rp 1,8 miliar.
Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar 21% hanya dalam sebulan dan meroket hingga 58% dalam kurun waktu satu tahun.
Kenaikan ini bahkan jauh melampaui logam mulia populer seperti platinum (50%), perak (34%), ataupun emas (28%).
Jika dibandingkan dengan komoditas energi seperti batu bara yang harganya berkisar US$111 per ton (sekitar Rp 1,8 juta), maka nilai Neodymium bisa mencapai 1.000 kali lipat lebih mahal.
Pergerakan harga yang agresif ini menegaskan posisi strategis LTJ dalam rantai pasok teknologi global dan menjadi alasan kuat di balik pembentukan Badan Industri Mineral oleh pemerintah.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto Dilantik Jadi Kepala
(*Red)
















