Review Demon Slayer: Infinity Castle, Standar Baru Visual dan Emosi di Saga Kimetsu no Yaiba

Tangkapan layar, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle | MAIN TRAILER. Sumber: Youtube/Sony Pictures Entertainment
Tangkapan layar, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle | MAIN TRAILER. Sumber: Youtube/Sony Pictures Entertainment

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Film terbaru dari waralaba populer Kimetsu no Yaiba, berjudul Demon Slayer The Movie: Infinity Castle, telah resmi dirilis dan langsung menetapkan standar baru bagi saga tersebut.

Film ini menjadi pembuka yang solid untuk trilogi penutup, menyuguhkan kualitas cerita, visual, dan musik yang memukau selama hampir 2,5 jam penayangannya.

Sebagai adaptasi dari arc terakhir manga, film ini memikul ekspektasi yang sangat tinggi dari para penggemar di seluruh dunia.

Baca Juga: Peacemaker Season 2 Tayang di HBO Max Mulai 21 Agustus

Studio Ufotable mengambil langkah berani dengan mengadaptasi bagian paling krusial ini ke dalam format film trilogi, sebuah keputusan yang terbukti berhasil dengan gemilang.

Film pertama ini tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa sisa triloginya akan menjadi sebuah pengalaman sinematik yang luar biasa.

Visual Megah dalam Latar Terbatas

Salah satu pencapaian teknis terbesar dalam film ini adalah kemampuan sutradara Haruo Sotozaki untuk memanfaatkan satu latar utama, yakni Infinity Castle, menjadi arena pertempuran yang dinamis dan tak terbatas.

Plot film yang mengisahkan jebakan Muzan Kibutsuji terhadap Korps Pembasmi Iblis dieksekusi dengan brilian.

Meskipun berpotensi monoton, kastil iblis tersebut justru diubah menjadi medan laga yang terus berubah bentuk, dengan komposisi warna dan arsitektur mendetail yang memanjakan mata penonton.

Setiap sudut kastil dimanfaatkan untuk menciptakan koreografi pertarungan yang intens dan tidak membosankan.

Tiga Pertarungan Epik Sebagai Pilar Cerita

Struktur naratif Demon Slayer: Infinity Castle ditopang oleh tiga pilar pertarungan utama: Shinobu Kocho melawan Iblis Bulan Atas Doma, Zenitsu Agatsuma menghadapi Kaigaku, dan puncaknya adalah duel Tanjiro Kamada bersama Giyu Tomioka melawan Akaza.