Andi Fachrizal menilai perjuangan masyarakat adat heroik.
“Di tengah gempuran korporasi, mereka tetap bertahan. Teknologi digital bisa memperkuat suara mereka,” katanya.
Ia juga mendorong jurnalis membuat liputan kolaboratif sebagai counter-narasi terhadap framing korporasi.
Kynan menegaskan kesadaran saja tidak cukup untuk menciptakan perubahan.
Baca Juga: Jojo, Orangutan 25 Tahun Rasakan Kebebasan di Enclosure Semi-Liar Ketapang
“Dari sebuah cerita bisa lahir perubahan, tapi harus ada kontribusi nyata dari perspektif masing-masing,” ujarnya.
Peserta diskusi mengaitkan pesan film dengan buku Bumi Ayu karya Resti dan Suara-suara Bisu Perempuan karya Yasir, keduanya membahas konflik agraria dan krisis lingkungan.
Diskusi juga menyinggung kesamaan pandangan masyarakat adat terhadap alam dengan tradisi mistisisme Islam (Irfan) serta konsep “pertobatan ekologis” Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’.
Kynan menilai pandangan lintas tradisi ini penting untuk memperkuat kesadaran ekologis.
(gg)
















