Kolase Journalist Camp 2025: Menguatkan Narasi Pelestarian Ragam Hayati di Era Digital

Peserta Kolase Journalist Camp, sebuah acara yang didedikasikan untuk para penggiat media dan lingkungan, yang berfokus pada perancangan strategi kampanye pelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat.
Peserta Kolase Journalist Camp, sebuah acara yang didedikasikan untuk para penggiat media dan lingkungan, yang berfokus pada perancangan strategi kampanye pelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat. Foto: HO/Faktakalbar.id

Di sisi fauna, tercatat ada 1.423 spesies satwa liar, yang mencakup 114 mamalia, 546 jenis burung, dan 420 jenis ikan.

Namun, kekayaan ini berhadapan dengan ancaman nyata, mulai dari kerusakan habitat, eksploitasi berlebihan, hingga dampak perilaku manusia yang merusak lingkungan.

Baca Juga: IJTI Kalbar Gelar Journalist Trip, Jurnalis Malaysia Turut Hadir

KJC 2025 hadir untuk menjawab tantangan ini dengan semangat kolaborasi.

Acara ini akan diikuti oleh 100 peserta, terdiri dari 60 peserta utama (jurnalis, pers mahasiswa, kreator konten) dan 40 peserta kehormatan (pemerintah, CSO, akademisi).

“Kita butuh kerja kolaboratif lintas sektor dan aktor. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri, media tidak bisa bergerak sendiri, begitu juga masyarakat. Semua harus saling menopang,” tegas Andi.

Rangkaian Acara Inspiratif

KJC 2025 akan diisi dengan berbagai sesi yang menggabungkan kampanye, pelatihan, dan aksi nyata, di antaranya:

  • Kampanye Publik “Kawal Jangan Dijual”: Digelar untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia (19 Agustus), sesi ini akan menampilkan pameran fotografi dan atraksi musik di bantaran Sungai Kapuas. “Orangutan adalah spesies kunci yang bisa menjadi pintu masuk percakapan publik tentang pelestarian hutan. Kita ingin kampanye ini jadi titik balik hubungan manusia dan alam,” kata Andi.
  • Workshop Jurnalistik “Demi Ragam Hayati, Kami Menulis”: Sesi ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam memproduksi konten kampanye yang naratif dan visual.
  • Aksi Nyata “Bersihkan Kapuas”: Sebuah gerakan untuk mendukung upaya Pemkot Pontianak mengurangi polusi plastik. “Sungai Kapuas adalah urat nadi Kalbar. Kita tidak bisa terus membiarkannya tercemar. Lewat aksi kecil, kita ingin bangun kesadaran besar,” ujarnya.
  • Media Gathering: Menjadi puncak acara, sesi ini mengangkat tema “Kawal Ragam Hayati, Lestarikan Tumbuhan dan Satwa Liar” sebagai ajang kolaborasi untuk merespons perburuan dan perdagangan ilegal.

Melalui pendekatan yang kreatif, KJC 2025 diharapkan dapat melahirkan narasi baru yang tidak hanya viral, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan positif untuk agenda pelestarian ragam hayati di Indonesia.

“Kita tidak bisa diam saat keragaman hayati terus menyusut. Lewat media, tulisan, foto, video, dan aksi nyata, kita ingin buktikan bahwa ragam hayati benar-benar adalah kekuatan kita,” pungkas Andi.

(*Red)