Zamir menegaskan bahwa militer Israel tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga “poros” sekutunya, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Ia menyatakan kesiapan penuh untuk menyerang kapan pun dibutuhkan.
Konflik yang terjadi pada bulan Juni lalu digambarkan oleh Zamir sebagai sebuah “perang preemptif”.
Baca Juga: Iran Serang Markas Mossad di Tel Aviv, Rudal Tembus Sistem Pertahanan Israel
Menurutnya, tindakan tersebut bertujuan untuk menghilangkan apa yang ia klaim sebagai “ancaman eksistensial yang meningkat sebelum menjadi bahaya nyata.”
Lebih lanjut, ia menuduh Iran sedang berada di jalur eskalasi berbahaya di berbagai lini.
Zamir juga mengklaim bahwa Teheran telah mengembangkan sebuah doktrin yang berpusat pada kehancuran total negara Israel.
Dengan nada tegas, Zamir menekankan kesiapan negaranya untuk menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan militer yang mungkin diambil.
“Kami siap membayar harga yang mahal untuk memastikan kelangsungan hidup kami,” kata Zamir, sebagaimana dilansir oleh Anadolu pada Kamis (14/8/2025).
Pernyataan Zamir bertepatan dengan tur militernya ke wilayah pendudukan di Lebanon selatan pada hari Rabu (13/8/2025), bersamaan dengan kunjungan Larijani di Beirut.
Baca Juga: Israel Klaim Tewaskan Kepala Staf Perang Iran dalam Serangan Udara di Teheran
Wacana serangan Israel ke Iran ini juga terus digaungkan oleh pejabat tinggi Israel lainnya dalam beberapa minggu terakhir, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar, yang semakin memperkuat prospek eskalasi konflik di masa mendatang.
(*Red)
















