Padahal, menurutnya, temuan luka tersebut sempat disampaikan oleh pihak kepolisian berdasarkan hasil otopsi sebelumnya. Ketidaksesuaian ini membuatnya semakin kecewa dan bertanya-tanya.
“Dari hasil otopsi ada goresan di wajah anak saya, tapi itu tidak tergambar di rekonstruksi. Padahal sebelumnya kasat sendiri yang menyatakan itu,” jelasnya.
Rasiwan menceritakan, ia mengenal pelaku sebagai tetangganya, meski interaksi mereka hanya sebatas sapaan biasa.
Baca Juga: Polres Bengkayang Ungkap Kasus Pembunuhan di Sungai Raya Kepulauan
Namun, sebuah firasat buruk sempat menghampirinya sehari sebelum tragedi menimpa Rafa.
Ia merasakan adanya ancaman dari pelaku terhadap anaknya, tetapi sayangnya ia tidak menindaklanjuti kecurigaan itu lebih jauh.
“Saya sempat merasa aneh, ada ancaman terhadap anak saya. Tapi saya tidak sempat tanyakan lebih lanjut,” ucapnya.
Yang lebih memilukan, Rasiwan mengungkapkan bahwa keluarganya pernah memberikan bantuan kepada pelaku dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan yang dibalas dengan air tuba ini menjadi pukulan telak baginya.
Di tengah duka, ia berharap agar tragedi yang menimpa anaknya menjadi yang terakhir dan menjadi pengingat bagi para orang tua untuk selalu waspada terhadap lingkungan sekitar, bahkan pada orang yang dikenal.
Baca Juga: Balita Hilang di Singkawang Ditemukan Tewas di Teras Masjid, Diduga Korban Pembunuhan
Proses rekonstruksi pembunuhan Rafa Fauzan ini diharapkannya dapat membuka semua tabir kejahatan yang terjadi.
“Semoga ini jadi pelajaran. Jangan lengah, bahkan pada orang yang kita kenal sekalipun. Cukup anak saya saja,” tutupnya.
(*Red)
















