Opini  

Poros Industri Hijau Nusantara: Menembus Kebuntuan Komoditas dengan Paradigma Hausmann

"Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc, QAM, IPU"
Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc, QAM, IPU - Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

Dalam konteks Kalimantan Barat, ini adalah alarm sekaligus peluang: membangun RCA dari sekarang, sebelum negara lain mengambil ceruk pasar tersebut.

Baca Juga: Narasi yang Tak Seimbang: Epistemic Warfare di Era AI dan Ketegangan Nurani Global

RPJMD dan Arah Baru Pembangunan Ekonomi Daerah

Momen perencanaan jangka menengah melalui RPJMD Kalbar 2025–2029 adalah peluang emas untuk menyelaraskan pembangunan daerah dengan paradigma kompleksitas ekonomi.

Dokumen tersebut telah menyebutkan penguatan produk unggulan daerah sebagai prioritas, namun belum sepenuhnya menyentuh aspek PCI, RCA, atau peta ruang produk.

Pembangunan tak bisa hanya mengejar peningkatan PDRB atau jumlah investasi, sebab pertumbuhan angka belum tentu berarti naik kelas.

Jika RPJMD Kalbar berani menyusun kebijakan hilirisasi spesifik dan investasi pada kapabilitas lokal mulai dari R&D, inkubasi UMKM, hingga pelatihan keterampilan inovatif maka Kalbar punya peluang nyata untuk menjadi model industri hijau berbasis pengetahuan dan kearifan lokal.

Poros Industri Hijau Nusantara: Kalbar Bisa Memimpin

Dengan kekayaan hayati, budaya lokal, dan konektivitas kawasan yang membaik, Kalbar berpotensi menjadi Poros Industri Hijau Nusantara.

Bukan hanya sebagai “lumbung komoditas”, tapi sebagai pusat produksi madu herbal, skincare tengkawang, produk wellness kratom, specialty coffee, dan karet bernilai tinggi.

Seperti kata Hausmann:

“Pembangunan bukan soal kekayaan yang Anda miliki, tapi soal kemampuan yang Anda bangun.”

Kalbar memiliki bahan baku, tetapi bahan baku tanpa inovasi hanya akan memperkaya orang lain. Maka, saatnya kita berhenti menjual mentah dan mulai membangun kapabilitas, agar komoditas kita tidak hanya dijual, tetapi juga dimuliakan.

Kalbar tak harus jadi Silicon Valley. Tapi Kalbar bisa menjadi Borneo Value Valley poros hijau, kreatif, dan ber-kompleksitas tinggi, yang berakar di tanah sendiri namun menjulang dalam ekonomi dunia.

Oleh: Gusti Hardiansyah

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

*Disclaimer: Isi tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.