Studi: Frekuensi BAB Bisa Tunjukkan Risiko Penyakit Kronis

Ilustrasi - Toilet flush yang merepresentasikan kebiasaan buang air besar dan hubungannya dengan kesehatan pencernaan. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)
Ilustrasi - Toilet flush yang merepresentasikan kebiasaan buang air besar dan hubungannya dengan kesehatan pencernaan. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)
  • Sembelit: satu hingga dua kali per minggu

  • Normal-rendah: tiga hingga enam kali per minggu

  • Normal-tinggi: satu hingga tiga kali per hari

  • Diare: empat kali atau lebih per hari, dengan konsistensi tinja encer

Secara umum, peserta yang lebih jarang BAB cenderung adalah perempuan, lebih muda, dan memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih rendah.

Namun, mereka yang mengalami sembelit atau diare cenderung memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya.

Baca Juga: Hindari Konsumsi 6 Makanan dan Minuman Ini Bersamaan dengan Durian, Bisa Picu Masalah Kesehatan

Sampel feses dari peserta yang BAB-nya lebih jarang menunjukkan tingkat bakteri lebih tinggi yang berkaitan dengan fermentasi protein—suatu kondisi yang berpotensi membahayakan.

Jika feses terlalu lama berada di usus, mikroba akan menghabiskan semua serat makanan yang tersedia, yang kemudian difermentasi menjadi asam lemak rantai pendek yang bermanfaat. Setelah itu, ekosistem beralih ke fermentasi protein, yang menghasilkan beberapa toksin yang dapat masuk ke aliran darah,” jelas Johannes Johnson-Martinez, ahli bioteknologi dari ISB.

(fd)