Studi: Frekuensi BAB Bisa Tunjukkan Risiko Penyakit Kronis

Ilustrasi - Toilet flush yang merepresentasikan kebiasaan buang air besar dan hubungannya dengan kesehatan pencernaan. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)
Ilustrasi - Toilet flush yang merepresentasikan kebiasaan buang air besar dan hubungannya dengan kesehatan pencernaan. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Frekuensi buang air besar (BAB) seseorang ternyata bisa menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan secara menyeluruh.

Baca Juga: Bijak Gunakan Antibiotik Saat Diare, RSUD SSMA Pontianak Beri Edukasi

Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada Juli 2024 di jurnal Cell Reports Medicine dan dikutip oleh Science Alert.

Penelitian tersebut melibatkan 1.425 orang dan menelusuri kebiasaan buang air besar mereka, yang kemudian dibandingkan dengan data demografi, genetik, dan kesehatan masing-masing.

Hasil studi menunjukkan bahwa buang air besar terlalu sering atau terlalu jarang dapat dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.

Peserta dengan kondisi kesehatan terbaik umumnya memiliki frekuensi buang air besar satu hingga dua kali sehari. Rentang ini disebut sebagai Goldilocks zone, yakni tidak terlalu sering dan tidak terlalu jarang.

Studi ini menunjukkan bagaimana frekuensi buang air besar dapat memengaruhi semua sistem tubuh, dan bagaimana frekuensi buang air besar yang abnormal dapat menjadi faktor risiko penting dalam perkembangan penyakit kronis,” kata Sean Gibbons, ahli mikrobiologi dari Universitas Washington sekaligus penulis korespondensi laporan tersebut.

Penelitian dipimpin oleh tim dari Institute for Systems Biology (ISB) dan melibatkan peserta yang secara umum sehat, tanpa riwayat penyakit ginjal atau gangguan usus seperti sindrom iritasi usus besar atau penyakit Crohn.

Para peserta mengisi laporan mandiri mengenai frekuensi BAB mereka, lalu dikategorikan menjadi empat kelompok: