“Saya mengatakan, Pak Krisantus, kami di Sintang ini kalau nggak ada kerja emas, usaha-usaha princess yang ada, warung-warung itu pasti tutup. Kalau ngarap yang noreh nggak mampu. Ngarap yang dodos sawit itu pun nggak laku. Jadi kalau ada mendengar kami kerja (PETI) itu, tolong tutup mata, tolong dipahami,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bupati Bala mengungkapkan bahwa masyarakat tidak berniat merusak alam.
Namun tekanan ekonomi membuat mereka tak punya pilihan lain.
“Tuhan menaruh emas di dalam tanah. Kalau ditaruh di dahan kayu pun kami jolok. Jadi itu situasi kami, bukan berarti mau merusak alam. Itulah situasi kami,” ucap Bala.
Bupati juga sempat berbagi kisah pribadinya saat bekerja di tambang emas pada tahun 1990-an.
Baca Juga: Polres Melawi Limpahkan Kasus Tambang Ilegal ke Kejari Sintang
Ia pernah menjadi penjaga mesin sedot dan mengalami langsung bahaya dari aktivitas tersebut.
“Saya dari tahun 1990-an udah jadi penjaga sedot yang bagus. Udah pernah jatuh, udah puas hampir ditimpa tanah. Panjang umur saja saya bisa berdiri di sini sekarang,” tutupnya.
(*Red)
















