RSUD dr. Soedarso Tingkatkan Layanan dan Fasilitas: Dari Hemodialisa hingga Pusat Jantung Terpadu

"RSUD dr. Soedarso Pontianak Tingkatkan Layanan & Fasilitas Kesehatan"
Direktur RSUD dr. Soedarso, drg. Hary Agung Tjahyadi, M.Kes., memberikan keterangan pers kepada media terkait pengembangan layanan RSUD dr. Soedarso. (Dok. Faktakalbar.id)

“Semua sudah bisa dilayani di Rumah Sakit Soedarso,” tegasnya

Menghadapi Tantangan Rujukan dan Efisiensi

Meskipun terus berkembang, RSUD dr. Soedarso tidak menampik tantangan besar, terutama terkait beban rujukan pasien yang tinggi. Drg. Hary Agung Tjahyadi menjelaskan bahwa RSUD dr. Soedarso kerap menjadi “ujung” rujukan, di mana 51% pasien yang masuk IGD dan dirawat inap pada tahun lalu masih memiliki tingkat keparahan level 1.

“Padahal kita sebenarnya rumah sakit rujukan utama provinsi harusnya di level 3 sama level 2 lah,” ujarnya.

Hal ini menyebabkan fasilitas dan tenaga yang seharusnya untuk kasus berat terbebani oleh kasus ringan seperti tipus atau demam yang bisa ditangani di fasilitas tipe C atau D.

Kepadatan pasien rawat jalan yang mencapai 800 hingga 1.000 orang per hari semakin memperlihatkan urgensi pemerataan layanan.

Menyikapi hal ini, drg. Hary Agung Tjahyadi menekankan pentingnya pemerataan layanan spesialistik di tingkat kabupaten/kota. Ia menyoroti minimnya unit intensif (ICU) di rumah sakit daerah, yang menyebabkan kasus gawat darurat pada anak dan bayi selalu dirujuk ke RSUD dr. Soedarso, menambah beban dan risiko bagi pasien.

“Membuka unit layanan intensif kan bukan yang mudah dan bukan yang murah,” katanya,

mendorong kolaborasi pembiayaan antara pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota, serta dukungan dari Kementerian Kesehatan untuk sarana dan prasarana.

Inovasi Digital dan Kanal Pengaduan untuk Peningkatan Pengalaman Pasien

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan, RSUD dr. Soedarso juga memperkuat sistem informasi dan komunikasi. Rumah sakit telah membuka kanal-kanal pengaduan 24 jam melalui WhatsApp, Instagram, website, dan pengaduan langsung di lokasi, dengan informasi yang jelas ditempel di berbagai unit layanan.

Pengaduan itu 24 jam harus wajib dijawab,” tegas drg. Hary Agung Tjahyadi. Setiap aduan akan segera ditindaklanjuti, dan jika diperlukan, rumah sakit akan memfasilitasi pertemuan langsung antara pengadu dan unit layanan terkait untuk klarifikasi dan penyelesaian masalah. “Biasanya ada salah pemahaman yang berbeda dan sebagainya. Nah, biasanya kita selesaikan disitu,” tambahnya

Untuk mengurangi antrean panjang dan meningkatkan efisiensi, RSUD dr. Soedarso juga akan menambahkan 14 anjungan baru di berbagai titik strategis, termasuk lantai 1, 2, 3, gedung terpadu, pusat jantung, dan radioterapi.

“Itu akan lebih efektif, lebih efisien dari segi pembiayaan, dan antrian juga tidak terlalu lama,” jelas drg. Hary Agung Tjahyadi.

Dengan inovasi ini, waktu tunggu pasien untuk pendaftaran diharapkan dapat terpangkas signifikan, dari yang tadinya bisa 2 jam menjadi sekitar setengah jam, memungkinkan pasien untuk langsung menuju poli tujuan.

Dengan semua upaya pengembangan dan transparansi ini, informasi terkait peningkatan layanan, fasilitas, serta inovasi di RSUD dr. Soedarso dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat, memperkuat kepercayaan dan memastikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi seluruh warga Kalimantan Barat.

(*Red)