“Hal ini mendukung penguatan ringgit karena investor asing dipandang sebagai pembeli bersih di pasar obligasi kami, terutama pada Surat Berharga Pemerintah Malaysia (SBN) dan Surat Berharga Investasi Pemerintah (SBI),” ujar Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid.
Ringgit di Peta Mata Uang Global
Meski pangsa penggunaan ringgit dalam transaksi global masih di bawah 0,3%, masuknya mata uang ini ke daftar 20 besar mencerminkan peningkatan relevansi Malaysia dalam sistem keuangan internasional.
“Ini bukan hanya soal ukuran, tapi posisi strategis Malaysia dalam jaringan perdagangan dan keuangan global,” jelas Innes.
Adapun dolar AS masih menjadi mata uang paling dominan di dunia dengan pangsa 49,68%, disusul euro (22,24%), pound sterling (6,51%), dan yen Jepang (4,03%).
Baca Juga: Merah Menyala: Rupiah Anjlok Lagi, Kini Nilai Tukar Rupiah Tembus 17.000 per Dolar
Ringgit Malaysia kini bersanding dengan mata uang lain seperti forint Hungaria dan baht Thailand dalam daftar 20 besar versi SWIFT.
Nasib Berbeda: Rupiah Masih Bergulat dengan Tekanan Global
Berbanding terbalik dengan ringgit, rupiah Indonesia masih menghadapi tekanan yang cukup besar.
Sepanjang semester I 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berfluktuasi karena berbagai tekanan eksternal.
Mulai dari kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi penyebabnya.
Rupiah dibuka pada awal tahun di level Rp16.090 per dolar AS dan ditutup pada 30 Juni 2025 di posisi Rp16.230 per dolar AS.
Sepanjang periode tersebut, rupiah mencatatkan depresiasi sebesar 0,87%.
Ke depan, Indonesia memerlukan reformasi struktural yang lebih mendalam agar rupiah dapat berperan lebih besar di kancah keuangan global.
Baca Juga: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Sentuh Angka Rp16.300, Pemerintah Monitor!
Penguatan transaksi lintas negara dengan rupiah serta integrasi sistem keuangan regional menjadi langkah penting untuk meniru keberhasilan ringgit Malaysia.
(*Red)
















