Opini  

Narasi yang Tak Seimbang: Epistemic Warfare di Era AI dan Ketegangan Nurani Global

"gambar ilustrasi : Dibuat oleh Malala, berdasarkan pokok pikiran tulisan ini"
Ilustrasi dibuat oleh Malala, berdasarkan pokok pikiran tulisan ini.

AI kemudian mereproduksi bias ini secara “halus” — melalui pemilihan kata, ketidakseimbangan respons, dan ketakutan berlebihan untuk menyebut pelanggaran kekuasaan.

Lalu Apa Harapan Manusia dalam Situasi Ini?

1. Kembali menjadi produsen narasi, bukan hanya konsumen

Saya sebagai jurnalis, jurnalis warga, atau hanya orang yang peduli, punya tanggung jawab moral: tulislah narasi tandingan.

AI akan terus belajar. Tapi ia hanya bisa belajar dari apa yang kita tegaskan secara publik dan konsisten.

2. Menuntut keseimbangan kurasi data dan pengawasan etis

Platform besar, termasuk pengembang AI, harus ditekan secara kolektif untuk memasukkan keragaman suara dari Global South, suara aktivis HAM, dan narasi yang selama ini dimarjinalkan.

3. Memelihara nurani di tengah badai data

Sebanyak apa pun AI belajar, ia tidak akan punya rasa malu, haru, atau luka. Manusia lah yang harus menjaga bahwa “kebenaran” bukan semata hasil agregasi, tapi hasil perenungan, penderitaan, dan keberpihakan pada yang tertindas.

Sebagai pemimpin redaksi, saya pernah mengira bahwa “objektivitas” adalah standar tertinggi.

Tapi dalam dunia yang timpang, objektivitas bisa jadi topeng dari ketidakberpihakan yang membunuh perlahan.

Hari ini saya percaya:

Netralitas tanpa keberpihakan pada yang tertindas adalah kolusi diam-diam dengan kekuasaan.

Dan dalam perang narasi global seperti hari ini, diam adalah bentuk keterlibatan.

Maka saya memilih menulis.
Dan saya memilih berdiri.
Meskipun tidak populer.
Meskipun sunyi.

Karena bagi saya, kebenaran tidak butuh banyak suara. Ia hanya butuh satu suara yang tidak menyerah.

Kalau tulisan ini menyentuhmu, sebarkan.

Bukan untuk saya. Tapi untuk Gaza. Untuk Rafah. Untuk anak-anak yang kehilangan rumah, dan bahkan kehilangan narasi tentang siapa mereka.

Dan untuk masa depan, agar anak-anak kita tidak tumbuh dalam sistem yang hanya tahu siapa yang menang, tapi lupa siapa yang benar.

“Jurnalisme bukan cermin kekuasaan, tapi cahaya bagi yang dikaburkan”

Oleh: Eddy Prastyo

Editor in Chief | Suara Surabaya Media

*Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan resmi dari Redaksi.