Apa Itu Teknologi SMR?
Small Modular Reactor (SMR) merupakan reaktor nuklir generasi baru dengan kapasitas maksimal 300 MW per unit, atau sekitar sepertiga dari kapasitas reaktor konvensional.
Teknologi ini dikembangkan dengan desain modular yang memungkinkan komponen dibuat secara pabrikasi dan dikirim dalam bentuk unit siap pasang ke lokasi instalasi.
Mengutip dari laman International Atomic Energy Agency (IAEA), SMR memiliki banyak keunggulan.
Baca Juga: Wamen ESDM Yuliot Pastikan Ketersediaan Energi di Kalimantan Barat Siap Sokong Idulfitri 2025
Selain hemat biaya dan waktu konstruksi lebih singkat, SMR cocok dipasang di daerah terpencil atau wilayah dengan keterbatasan infrastruktur jaringan listrik.
Beberapa jenis SMR, seperti mikroreaktor, bahkan dapat menghasilkan listrik dalam kapasitas lebih kecil (hingga 10 MW), yang sangat bermanfaat bagi komunitas rural dan fasilitas industri sebagai alternatif pembangkit diesel.
Dari sisi keamanan, SMR mengandalkan sistem pasif seperti sirkulasi alami dan tekanan mandiri, yang meminimalkan kebutuhan intervensi manusia dalam kondisi darurat.
Menariknya, beberapa desain SMR bisa beroperasi hingga 30 tahun tanpa perlu pengisian bahan bakar ulang, dibandingkan reaktor konvensional yang perlu pengisian ulang setiap 1–2 tahun.
Saat ini, lebih dari 80 desain SMR tengah dikembangkan di seluruh dunia untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkitan listrik, pemanasan, desalinasi air, hingga keperluan industri.
Salah satu contoh nyata adalah Akademik Lomonosov di Rusia, sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia yang mulai beroperasi sejak Mei 2020 dan menggunakan dua reaktor SMR masing-masing berkapasitas 35 MW.
Penerapan teknologi SMR di Indonesia diharapkan mampu mendukung ketahanan energi nasional, terutama di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik utama.
Baca Juga: Kementerian ESDM Bentuk Direktorat Penegakan Hukum untuk Berantas Tambang Ilegal
















