UNIMAS dan STKIP Sintang Kolaborasi Budaya Lewat Program Student Mobility

Mahasiswa UNIMAS dan STKIP PERSADA KHATULISTIWA SINTANG lakukan kunjungan ke ensaid panjang. Foto: HO/Faktakalbar.id
Mahasiswa UNIMAS dan STKIP PERSADA KHATULISTIWA SINTANG lakukan kunjungan ke rumah betang ensaid panjang. Foto: HO/Faktakalbar.id

Faktakalbar.id, SINTANG – Sebanyak 17 mahasiswa dari University of Malaysia Sarawak (UNIMAS) melakukan kunjungan budaya ke Rumah Betang Ensaid Panjang, Sintang, Selasa (10/6/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Student Mobility antara UNIMAS dan STKIP Persada Khatulistiwa Sintang.

Acara pembukaan dilaksanakan langsung di Rumah Betang oleh Ketua STKIP Sintang, Didin Syafruddin.

Baca Juga: Makan Saprahan: Sekda dan Sultan Sintang Dukung Pelestarian Demi Menjaga Identitas Budaya

Dalam sambutannya, Didin memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada para mahasiswa asal Malaysia.

Salah satu kegiatan utama dalam kunjungan ini adalah pengenalan proses pembuatan kain tenun ikat Dayak Sintang.

Para peserta diajak menyaksikan proses pewarnaan benang hingga tahap penenunan.

Tak sekadar melihat, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk ikut serta mewarnai benang yang akan dijadikan bahan tenunan.

Bintang, mahasiswa STKIP Sintang, menyebut kegiatan ini rutin digelar setiap tahun sebagai upaya pertukaran budaya antara kedua institusi.

“Kita yang ke Malaysia atau mereka yang ke sini untuk dapat pengalaman baru, untuk memberikan sesuatu yang berbeda di setiap tahunnya. Tidak hanya itu-itu saja,” jelas Bintang.

Sementara itu, Shamira, mahasiswa UNIMAS asal Sabah, mengaku antusias mengikuti program ini karena bisa mengenal budaya Indonesia secara langsung.

Baca Juga: Forum Knowledge Sharing Series “Water Management and Water Treatment”

“Saya sangat menyukai pengalaman ini, terutama soal persaudaraan. Karena, sebagai seorang mahasiswa dari negeri lain. Saya berasal dari Sabah, kemudian saya datang ke Sarawak untuk belajar, dan saya datang ke Indonesia untuk belajar budaya baru,” ungkapnya.

Pendapat senada juga disampaikan Merah, mahasiswa UNIMAS lainnya.

Ia menilai bahwa kerajinan tenun ikat Dayak memiliki nilai budaya tinggi dan layak diwariskan.

“Menurut saya, budaya ini perlu diturunkan kepada generasi berikutnya karena sekarang banyak hasil karya berasal dari cetakan. Jadi, kerajinan ini harus diteruskan lagi, dipamerkan lagi ke generasi baru. Hasil keunikannya sangat otentik,” ujarnya.

Kegiatan kunjungan ini menjadi jembatan penting dalam mempererat hubungan budaya antara Malaysia dan Indonesia, sekaligus memperkenalkan warisan budaya lokal yang kaya dan bernilai tinggi kepada dunia internasional.

Baca Juga: Gebyar Musik Etnik dan Pameran Ekraf Sintang 2025 Resmi Ditutup Sekda Kartiyus

(jn)