Faktakalbar.id, PONTIANAK – Persoalan pengelolaan sampah di Kota Pontianak kini menjadi isu serius yang memerlukan perhatian bersama. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dan perubahan iklim yang kian terasa, masalah sampah menjadi tantangan besar.
Hal ini menjadi fokus utama dalam Dialog Interaktif bertema “Urgensi Pengolahan Sampah di Kalbar dan Kontribusi Pemuda sebagai Agen Perubahan dalam Penanganannya”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Minggu (8/6/2025) sore di Kedai Kopi Rumangsa.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, yang hadir sebagai narasumber, mengungkapkan bahwa setiap harinya kota ini menghasilkan sekitar 350 hingga 400 ton sampah.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan Pengelolaan Sampah Nasional 100 Persen pada 2029, Pontianak Dinilai Siap
“Kita hidup di kota dataran rendah, diapit Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kota ini hanya seluas 118,2 kilometer persegi, tapi menghasilkan ratusan ton sampah setiap hari. Jika tidak dikelola secara serius dan berkelanjutan, ini akan jadi bom waktu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kota Pontianak berencana membangun Pusat Pengelolaan Sampah Terpadu pada tahun 2026.
Fasilitas ini akan menggunakan teknologi modern, seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos dan gas metana, serta pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bangunan atau biomassa sebagai bahan bakar alternatif.
Namun Edi menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup jika masyarakat masih belum sadar pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Ia menilai peran generasi muda, khususnya mahasiswa, sangat strategis dalam menyebarkan edukasi dan mendorong perubahan perilaku.
“Solusi teknologi itu perlu, tapi perubahan perilaku lebih penting. Ini yang harus didorong oleh teman-teman mahasiswa. Jadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan moral,” ujarnya.
Wali Kota juga menyoroti pentingnya edukasi sejak dari rumah tangga, seperti memilah sampah organik dan anorganik serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Ia menegaskan bahwa sampah plastik bukan sepenuhnya masalah, asalkan dikelola dengan baik.
“Sampah plastik itu tidak sepenuhnya buruk. Kita punya bank sampah, kita olah ulang, daur ulang. Plastik kresek bisa dijadikan bahan bakar. Tapi kita perlu kesadaran kolektif agar tidak membuang sampah sembarangan,” tegas Edi.
Lebih lanjut, ia menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Pontianak untuk berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa dalam pengembangan berbagai program pengelolaan sampah.
Mulai dari bank sampah, kampanye pengurangan plastik, hingga pelatihan pengolahan sampah organik dan daur ulang.
“Mari kita bersama-sama menjaga kota tetap bersih, karena ini bukan hanya tugas petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga, termasuk pemuda dan mahasiswa,” pungkasnya. (ra/prokopim)
Baca Juga: Wali Kota Pontianak: Revitalisasi TPA Batulayang Solusi Atasi Sampah dan Sumber PAD Baru
















