-
Emas: ± Rp 9 juta per ton.
-
Zirkon: Rp 3-6 juta per ton.
-
Ilmenit: Rp 1,5 juta per ton.
-
Platinum dan Palladium: Hingga Rp 20 juta per ton.
-
Biaya Pengolahan: Hanya Rp 1,5-2 juta per ton.
Untuk memulai pengolahan kecil (2-3 ton/hari), modal awal diperkirakan: -
Alat pemisah: Rp 250-300 juta.
-
Alat magnet dan listrik: Rp 100-150 juta.
-
Tungku kecil: Rp 200 juta.
-
Bangunan dan lainnya: Rp 150 juta.
-
Izin dan keamanan: Rp 50 juta.
-
Total: Rp 700-800 juta.
Dengan pengelolaan oleh koperasi dan UMKM, ini bisa untungkan masyarakat lokal!
Digunakan untuk Apa Saja?
Bahan dari Puya’ Pasir Hitam berguna di banyak bidang:
-
Zirkon:
-
Industri: Jadi keramik tahan panas untuk tungku pabrik atau ubin kuat.
-
Pertahanan: Bahan pelapis tabung bahan bakar di kapal selam nuklir.
-
-
Ilmenit dan Rutil:
-
Industri: Buat cat putih untuk rumah atau mobil.
-
Pertahanan: Jadi logam titanium untuk badan pesawat tempur, seperti F-35.
-
-
Monasit (REE):
-
Industri: Magnet kuat untuk motor mobil listrik, misalnya di Tesla.
-
Pertahanan: Radar dan laser untuk rudal atau kapal perang.
-
-
Platinum dan Palladium:
-
Industri: Kurangi asap kendaraan di mobil bensin.
-
Pertahanan: Sensor panas untuk drone militer.
-
-
Emas dan Perak:
-
Industri: Konektor di ponsel atau laptop.
-
Pertahanan: Radio satelit untuk komunikasi militer.
-
-
Silika:
-
Industri: Pasir untuk beton jalan atau gedung.
-
Pertahanan: Panel kuat untuk bunker militer.
-
Langkah ke Depan
Rencananya, koperasi akan dilatih, fasilitas pengolahan kecil dibangun, dan bekerja sama dengan peneliti BRIN serta pembeli logam. Ini bisa jadi contoh nasional, mendukung ekonomi dan ketahanan mineral Indonesia.
Puya’ Pasir Hitam bukan lagi sisa hasil pertambangan, melainkan harta karun dari Kapuas Hulu yang bisa ubah hidup masyarakat, dari desa hingga industri dan pertahanan nasional.
(RDL)
















