Di hari ini, pasangan pengantin diarak menuju pelaminan untuk menyambut tamu-tamu yang sudah hadir lebih awal, sambil menikmati iringan musik tanjidor atau tar. Di sore hari itu pula, pengantin duduk bersanding di pelaminan sebagai bentuk penghormatan dan sambutan terhadap para tamu.
Kemudian, prosesi Belarak kembali dilakukan pada hari puncak pernikahan atau hari H. Setelah para tamu undangan selesai mengikuti acara sarakalan dan menyantap hidangan, pasangan pengantin kembali diarak dengan iringan musik tradisional menuju pelaminan.
Prosesi ini menjadi momen penting karena pengantin akan diperlihatkan secara resmi kepada para tamu, kemudian menyantap nasi perdamaian bersama sebagai simbol keharmonisan dan awal kehidupan baru. Setelah itu, mereka bersalaman dengan para tamu yang akan berpamitan pulang.
Tradisi Belarak menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu Sambas yang masih bertahan hingga kini. Di tengah arus modernisasi, Belarak tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai wujud cinta terhadap warisan nenek moyang.
(DNS)
Baca Juga: Dari Tepi Laut ke Pasar Internasional: Darlina, Penjaga Tradisi Anyaman Tikar Asal Selakau Sambas
















