Menariknya, sebagian besar pelaku tambang bukan warga lokal, melainkan didatangkan dari luar Kabupaten Sanggau.
“Uang dan logistik mengalir lancar, karena ada sistem yang terorganisir. AS ini bukan pemain baru. Sudah lama bermain di sektor ini,” ungkap seorang sumber terpercaya.
Selain mengancam keberlangsungan ekosistem Sungai Kapuas, aktivitas PETI disebut menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kajiannya bahkan mencatat kadar logam berat di kawasan ini meningkat hingga lebih dari 500 persen.
Sebuah sinyal merah terhadap krisis ekologis yang mengancam ribuan warga di Kalimantan Barat.
(tim fakta kalbar)
Catatan Redaksi:
Berdasarkan Keputusan Dewan Pers Nomor 553/DP/K/VII/2025, pemberitaan ini dinyatakan melanggar:
-
Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
-
Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
-
Pasal 6 Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
-
Butir 2 huruf a dan b Pedoman Pemberitaan Media Siber
Sebagai bentuk tanggung jawab jurnalistik, redaksi telah memuat Hak Jawab dari pihak yang merasa dirugikan dan melakukan klarifikasi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Redaksi juga telah memperbaiki sistem kerja redaksional untuk mencegah hal serupa terulang di masa depan.
Tautan Hak Jawab dan klarifikasi resmi dapat diakses di sini: Menindaklanjuti Putusan Dewan Pers, Faktakalbar.id Muat Hak Jawab dan Klarifikasi atas Pemberitaan Inisial “AS”
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















