Dalam monitoring yang dilakukan BPPTKG dan disiarkan dalam forum Media Merapi, volume curah hujan di atas puncak bervariasi mulai dari 8 milimeter hingga di atas 100 milimeter. Adapun durasi curah hujan berkisar antara 60-180 menit.
Selain guguran lava panas, potensi bahaya saat ini berupa awan panas dan banjir lahar hujan pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan untuk tidak melakukan kegiatan apapun di wilayah potensi bahaya. Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
*Dua Gunungapi Turun ke Level II*
Dari beberapa gunungapi yang masih ditetapkan dalam level III atau Siaga, ada dua gunungapi justru turun menjadi level II atau Waspada. Adapun dua gunungapi itu meliputi Gunungapi Iya di Ende, Nusa Tenggara Timur dan Gunungapi Karangetang di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.
Gunungapi Iya telah diturunkan ke dalam level II pada tanggal 8 Januari 2025 pukul 18.00 WITA. Penurunan status ini berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental aktivitas gunung itu selama periode 1 – 7 Januari 2025.
Kendati sudah turun ke level waspada, namun gempa dangkal maupun dalam masih terus tedeteksi. Masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah utama.
Adapun karakteristik letusan Gunung Iya pada umumnya berlangsung di kawah utama melalui letusan magmatik yang menghasilkan abu vulkanik, lontaran batu pijar, dan aliran lava. Di sisi lain, Gunungapi Iya juga memiliki rekahan yang berhadapan langsung dengan laut, yang mana dapat berkembang dan berpotensi dapat memicu longsoran dan menimbulkan tsunami.
Selanjutnya, Gunungapi Karangetang yang berada di Kabupaten Sitaro diturunkan statusnya menjadi level II pada Sabtu (11/1) pukul 18.00 WITA. Kendati demikian, masyarakat, pengunjung, wisatawan atau pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dan mendekati radius 1,5 kilometer dari kawah utama (selatan) dan kawah dua (utara), termasuk wilayah sektoral 2,5 kilometer pada arah barat daya dan selatan.
Tingkat aktivitas Gunung Karangetang akan ditinjau dan dievaluasi kembali secara berkala maupun jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Sebelumnya, pada awal November 2024 status Gunung Karangetang dinaikkan menjadi Siaga setelah terjadi peningkatan aktivitas secara signifikan.(rfk/*Pusdatin bnpb)










