Masyarakat Resah, Bank Indonesia Harus Gencar Sosialisasi Cegah Peredaran Uang Palsu

Ia mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan metode 3D (dilihat, diraba, diterawang) saat menerima uang fisik, sesuai anjuran Bank Indonesia. Charles juga mendorong pekerja yang sehari-harinya berhubungan dengan transaksi jual-beli untuk mengikuti edukasi terkait deteksi uang palsu.

 

Anggota Komisi Keuangan DPR ini juga mengajak masyarakat yang merasa kesulitan membedakan uang palsu untuk datang ke kantor cabang BI terdekat. “Bank Indonesia dapat membantu untuk melihat apakah uang yang dimiliki masyarakat itu asli atau tidak karena mereka memiliki Counterfeit Analysis Center yang dilengkapi tenaga ahli,” lanjutnya.

 

Charles meminta BI untuk terus melakukan pengawasan yang efektif, berkoordinasi dengan kepolisian dan lembaga terkait lainnya, serta mengevaluasi elemen keamanan pada uang kertas yang beredar. Ia menekankan pentingnya peningkatan teknologi pencetakan dan desain uang baru untuk mencegah pemalsuan.

 

Kasus uang palsu di UIN Makassar semakin memperkuat pentingnya pengawasan, dengan adanya penangkapan 17 orang termasuk oknum kampus dan pegawai bank BUMN. “Produksi uang palsu ini tidak hanya berpotensi merugikan perekonomian, tetapi juga menciptakan keresahan di masyarakat,” kata Charles.

 

Kasus tersebut juga melibatkan pemalsuan mata uang asing seperti won Korea Selatan dan dong Vietnam. “Pemerintah dan penegak hukum serta stakeholder terkait seperti BI harus berhati-hati dengan sindikat-sindikat ini, karena bisa jadi ada kemungkinan keterlibatan pelaku internasional,” pungkasnya.(rfn)