JAKARTA – Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, terus melanjutkan pembentukan kabinetnya dengan menominasikan tokoh-tokoh penting yang diharapkan dapat merealisasikan janji-janji kampanyenya. Dua isu utama yang menjadi perhatian adalah deportasi massal imigran ilegal dan pengenaan tarif impor barang dari negara-negara seperti Tiongkok.
Salah satu langkah penting Trump adalah menunjuk Gubernur South Dakota, Kristi Noem, sebagai calon Menteri Keamanan Dalam Negeri. “Kristi Noem telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang tegas dalam menjaga keamanan perbatasan,” ujar Trump dalam pernyataan resminya melalui media, Kamis (21/11/2024). Noem sebelumnya mengirimkan Garda Nasional South Dakota ke Texas sebanyak delapan kali untuk membantu mengatasi krisis perbatasan. Ia juga akan bekerja sama dengan pejabat tinggi perbatasan yang telah dipilih Trump untuk menjalankan kebijakan deportasi massal.
Selain itu, Trump menominasikan Pam Bondi, mantan Jaksa Agung Florida, sebagai calon Jaksa Agung AS. Bondi diproyeksikan akan memprioritaskan kasus imigrasi ilegal di bawah Departemen Kehakiman. Trump bahkan mengusulkan penggunaan militer untuk mempercepat proses deportasi ini. Langkah ini menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia tetapi tetap mendapat dukungan dari sebagian besar pemilih Trump.
Di sisi perdagangan, Trump berkomitmen mengenakan tarif impor hingga 40 persen, khususnya pada barang-barang dari Tiongkok. Berdasarkan laporan Reuters, kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi defisit perdagangan AS yang terus membengkak. “Negara-negara lain mengambil keuntungan dari perdagangan dengan AS tanpa memberikan timbal balik yang setara,” kata Trump dalam wawancara baru-baru ini. Para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat memicu ketegangan perdagangan global yang lebih luas, terutama dengan negara-negara Asia yang menjadi mitra dagang utama AS.










