David Schenker, seorang analis dari Washington Institute, mengungkapkan bahwa konflik ini telah menciptakan perubahan geopolitik yang signifikan. “Ada lanskap baru dengan dinamika geopolitik yang berbeda,” ujar Schenker Kamis (17/10). Ia menambahkan bahwa sebelum serangan besar-besaran Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel masih bersedia mentoleransi ancaman terbatas seperti serangan roket. Namun, kini toleransi tersebut tidak lagi berlaku. “Israel kini menghadapi lebih banyak ancaman, tidak hanya dari Hamas, tetapi juga dari Hizbullah dan Iran,” jelasnya.
Perang Gaza yang berlangsung sengit telah merenggut lebih dari 42 ribu nyawa, baik dari pihak Israel maupun Palestina. Dalam pernyataan resminya pada 17 Oktober 2024, Netanyahu menyebut pembunuhan Yahya Sinwar sebagai langkah untuk menyelesaikan permasalahan di Gaza. “Kami tidak akan berhenti hingga semua sandera warga negara Israel dibebaskan,” tegasnya.
Meski demikian, hingga saat ini, kantor perdana menteri Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait komentar Netanyahu tersebut. Sementara itu, dinamika geopolitik yang terus memanas mengindikasikan bahwa konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.










