Tidak sampai 700 meter, perjalanan Kepala BNPB dan rombongan berlabuh ke Pantai Ulee Lheue. Lokasi yang dipilih menjadi tempat penanaman vegetasi untuk mitifasi bencana tsunami secara simbolis dengan 6.000 batang mangrove.
“Aceh yang relatif memiliki banyak daerah pesisir pantai, memerlukan infrastruktur pemecah ombak untuk meminimalisir kekuatan hantaman gelombang tsunami,” tutur Suharyanto.
Dirinya menjelaskan pohon mangrove menjadi salah satu investasi masa depan yang baik sebagai upaya pengurangan risiko bencana.
“Kalau pantainya ditumbuhi mangrove bisa mengurangi hantaman gelombang tsunami, jika mangrovenya lebat, vegatasi lautnya menjadi bagus, hal ini jadi investasi jangka panjang bagi daerah di masa mendatang,” jelasnya.
“Tidak hanya secara simbolis hari ini saja, penanaman dan pemeliharaan pohon mangrove ini dijalankan secara terus-menerus, menjadi contoh bagi masyarakat bahwa begitu pun menanggulangi bencana harus dilakukan terus-menerus,” ujar Suharyanto.
Adapun upaya mitigasi dengan vegatasi ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang selalu menekankan pada unsur pencegahan bencana.
“Kehebatan penanggulangan bencana bukan saat aksi kita ketika bencana sudah terjadi, namun aksi kita pada fase pencegahan untuk mengurangi dampak kerusakan maupun kerugian dari kejadian bencana itu sendiri,” tambahnya.
Kegiatan ziarah pemakaman masal dan penanaman pohon ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (Bulan PRB) yang dilaksanakan sejak 8 hingga 10 Oktober 2024.
Berbagai acara dipusatkan di Provinsi Aceh ini diharapkan mampu membangun ketahanan masyarakat Aceh mulai dari tingkat keluarga, satuan pendidikan, komunitas hingga dunia usaha agar lebih siap untuk menghadapi setiap ancaman dan potensi bencana.(rfk/*pusdatin bnpb)










