Akibat insiden ini, aktivitas ekonomi lokal terhenti karena kapal-kapal lain harus menunda pelayaran mereka, termasuk kapal logistik yang membawa barang-barang vital untuk Kalimantan Barat.
“Ini bukan insiden alam, karena sudah ada prediksi dan hitungannya tentang pasang surut air untuk bisa dilewati oleh kapal dengan draf 5,8 meter. Ini kesengajaan dan mengabaikan apa yang sudah menjadi ketentuan,” lanjut sumber tersebut.
Sampai saat ini, pihak KSOP belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan keterlibatan oknum pejabat SH dari pihak mereka dalam insiden ini, sementara proses pelepasan KM NB masih terus berlangsung dengan melibatkan sejumlah kapal tunda (R-69).










