Pesan Tokoh Agama Melalui Pembelajaran Kebhinekaan dan Pelestarian Lingkungan

 

Sutadi selaku Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Kalimantan Barat menyambung menyampaikan pesan bahwa dalam ajaran konghucu, semuanya kembali pada diri kita sendiri dengan membina diri kita.

 

“Dalam ajaran konghucu sudah diurutkan mengenai hal baik yang dilakukan. Dasar bagi kami menghargai orang lain dengan sifat yang universal. Sepanjang masih bisa diperbaiki maka diperbaiki. Jadi belajar dan harus berlatih agar menyenangkan. SEKA ini berjalan tidak melaju tapi terus berjalan.”kata Sutadi.

 

Tokoh agama selanjutnya ialah Syamsul Hidayat selaku perwakilan Majelis Ulama Indonesia memnbayangkan bahwa semesta tidak akan membaik dan semakin menua.

 

“Untuk memperbaiki lingkungan rasanya tidak mungkin. Kehadiran SEKA ini sebagai bentuk komunitas untuk menjaga lingkungan. Perubahan iklim yang terjadi sudah di depan mata. Ecobhineka di upgrade harus memiliki teamwork yang baik. Saya membayangkan satu program seperti wisata religi. Wisata ini sebagai bentuk pengenalan pada alam yang kemudian terkait dengan simbol keagamaan.” tambah Syamsul.

 

Mustaat Saman mewakili NPCI Kalimantan Barat memnyampaikan bahwa NPCI bergerak di bidang olahraga disabilitas.

 

“Kami bersama adik-adik memiliki semangat yang tidak setengah-setengah, maka penyandang disabilitas rentan mental sehingga agama menjadi penting. Dengan kehadirana SEKA ini tentu menjadi jembtana kami untuk teman-teman disabilitas memiliki ruang karena masalah disabilitas ialah masalah kita bersama.”tegas Mustaat.

 

Terakhir, Manto selaku Kaban Kesbangpol Kalimantan Barat bumi mengingatkan bahwa bumi sudah rusak akibat iklim yang tidak lagi bisa diprediksi.

 

“Daerah yang banyak sawit akan cepat kemarau. Kiota bisa mulai perbaikan lingkungan 3R dari rumah sendiri. Kontribusi kita untuk menghasilkan oksigen bisa dengan menanam.”tambah Manto.

 

Shinta menutup diskusi panel dengan menyampaikan bahwa cerita SEKA sudah sampai Afrika dan Amerika sehingga pengalaman dijadikan motivasi sebagai cerita.

“Setiap agama akan menularkan praktik baik menjadi sebagai ladang pahala.”tutup Shinta.(*r).