Pun sebaliknya, kegiatan di air yg tidak menimbulkan percikan di permukaan, justru tidak menarik perhatian si buaya. Jadi, ketika “terpaksa” harus berkegiatan di air, sebisa mungkin minimalisir hal-hal yang bisa menarik perhatian si buaya.
Namun drh.Happy mewanti-wanti, bahwa bukan berarti hanya dengan tidak menimbulkan percikan di permukaan air saja, masyarakat bisa aman dari terkaman buaya, karena itu hanya salah satu perilaku alami buaya saja,
“Masih banyak perilaku alami lainnya yang perlu dipahami agar kita bisa benar-benar aman dari terkaman buaya muara.” Jelas drh.Happy. Untuk diketahui, drh Happy Ferdiasnyah saat ini bekerja sebagai dokter hewan *Exotic & Wild Animal Interest pada Klinik Hewan Purnama.
Pria kelahiran 1991 ini juga sebagai Head Vet of Wak Gatak Conservation Center-Yayasan Planet Indonesia. Jebolan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tahun 2009, Pendidikan Profesi Dokter Hewan, Universitas Airlangga tahun 2018.ini mempunyai keahlian di bidang Bedah Umum Hewan Kesayangan dan Animal Eksotis, Identifikasi Burung Liar serta penandaan dan pencincinan burung (lisensi C-BRIN).
Sedangkan organisasi yang diikuti diantaranya; ASLIQEWAN (Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar,Akuatik,Eksotik), IAM Flying Vet serta FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia) Jawa Timur.(rfk)










