Ada delapan spesies trenggiling yang tersebar di seluruh dunia; empat spesies ditemukan di Afrika, dan empat lainnya ditemukan di Asia. Salah satu spesies trenggiling yang paling dikenal adalah Manis javanica, yang mana paling banyak ditemukan di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.
Menurut Hari Prayoga, keberadaan trenggiling kini semakin berkurang karena perburuan yang marak terjadi untuk mengambil sisik dan daging dari hewan ini. Sisik dan daging trenggiling diyakini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia.
Pemanfaatan sisik dan daging trenggiling sudah dilakukan cukup lama terutama di Cina. Sisik trenggiling dianggap sebagai salah satu bahan dasar untuk membuat obat tradisional yang mujarab. Sementara dagingnya dianggap sebagai makanan mewah yang hanya dapat dikonsumsi oleh kelas masyarakat tertentu.
Pada tahun 2016, semua spesies trenggiling dipindahkan dari Appendix II CITES ke Appendix I CITES.3 CITES adalah perjanjian multilateral untuk melindungi flora dan fauna yang terancam punah dari ancaman perdagangan internasional.
“Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut meratifikasi perjanjian ini,” kata Hari.
International Union of Conservation Nature (IUCN) juga sudah menetapkan trenggiling sebagai satwa yang Terancam Secara Kritis (Critically Endangered), hanya satu tingkat lagi sebelum mereka memasuki status Punah di Alam. (Noe)










